Rabu, 30 Mei 2012

GAS ASETYLEN DAN DIFUSI GAS

BAB II
PEMBAHASAN
A.     ACARA I  :GAS
1.      PRODUKSI GAS ASETYLEN
a.       Pelakasanaan
1)   Hari/Tanggal                 : Ahad, 17 April 2011
2)   Waktu                          : 11.05-11.30
3)   Tempat                         : Lapangan IAIN Mataram kampus 2
4)   Tujuan                          :Untuk mengetahui bagaimana reaksi antara                                                 
 H2O dengan CaC2 sehingga mendapatkan gas asetilen dan
 sampai pembakarannya
b.      Landasan Teori

Asetilena adalah suatu hidrokarbon yang tergolong kepada alkuna, dengan rumus C2 H2. Asetilena merupakan alkuna yang paling sederhana, karena hanya terdiri dari dua atom hidrogen. pada asetilena, kedua karbon terikat melalui ikatan rangkap tiga, dan masing-masing atom karbon  memiliki hibridisasi orbital sp untuk ikatan sigma. Kelebihan yang dimiliki gas Asetilen antara lain, menghasilkan temperature nyala api lebih tinggi dari gas bahan bakar lainnya, baik bila dicampur dengan udara ataupun oksigen.
Gas-gas lain yang juga berperan adalah  propane (LPG), methane dan hydrogen. Karena temperature nyala api yang dihasilkan lebih rendah dari gas asitilen maka ketiga jenis gas ini jarang dipakai sebagai gas pencampur.
Seperti disebutkan,  gas Asetilen merupakan jenis gas yang paling banyak digunakan sebagi bahan pencampuran dengan gas Oksigen. Jika gas Asetilen digunakan sebagi gas pencampur maka seringkali proses pengelasan disebut dengan las karbit. Gas Asetilen ini sebenarnya dihasilkan dari reaksi batu Kalsium Karbida (orang-orang menyebut karbit) dengan air. Jadi jika Kalsium Karbida ini disiram atau dicelupkan ke dalam air maka akan terbentuk gas Asetilen. Jadi penyebutan nama las karbit hanya untuk mencirikan bahwa gas yang digunakan salah satunya adalah gas Asetilen. Selain dikenal dengan nama las karbit, kadang-kadang masyarakat umum menyebutkan juga dengan nama lain yaitu las MDQ. Penyebutan nama MDQ ini sesungguhnya mengacu pada satu merk batu karbit. Jadi nama las karbit atau las asetilen atau las MDQ sebenarnya adalah satu nama proses las yan sama. Untuk dapat melakukan pengelasan dengan cara las gas, diperlukan peralatan seperti tabung gas Oksigen dan tabung gas Asetilen, katup tabung, regulator (pengatur tekanan gas), selang gas dan torch (brander). Kedua gas Oksigen dan Asetilen keluar dari masing-masing tabung dengan tekanan tertentu, mengalir menuju torch melalui regulator dan selang gas. Setelah sampai di torch kedua gas tercampur dan akhirnya keluar dari ujung nosel torch. Dengan bantuan pematik api, campuran gas yang keluar dari ujung nosel membentuk nyala api denagn intensitas tertentu
untuk melihat Proses las gas (pada tutorial  ini akan sering disebutkan las gas untuk mencirikan bahwa las yang dimaksud adalah las yang melibatkan campuran gas Oksigen dan gas bahan bakar) umumnya dipakai secara manual yaitu dikerjakan oleh tangan juru las. Pengaturan panas dan pemberian kawat las dilakukan oleh kombinasi kedua tangan juru las. Oleh karena itu, kualitas sambungan nantinya akan dipengaruhi oleh ketrampilan dan keahlian si juru las. Sebenarnya sudah ada pengembangan dari proses las gas ini menjadi semi-otomatis atau “dimensikan”. Tentu saja hal itu dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mendapatkan kualitas sambungan yang lebih baik. Dengan system yang sudah otomatis maka pengaturan panas dan pemberian kawat las akan lebih baik lagi. Kebanyakan otomatis system diterapkan pada operasi-operai pemotongan pelat logam dimana pada sistem itu kecepatan pemotongan dapat diatur. Proses las gas dapat dilaksanakan dengan pemberian kawat las (atau istilah logam pengisi) atau tidak sama sekali. Satu syarat dimana diperlukan logam pengisi atau tidak adalah dilihat dari ketebalan pelat yang akan di las. Jika pelat itu tipis maka untuk menyambungnya dapat dilakukan tanpa memberikan logam pengisi, sedangkan untuk pelat-pelat tebal diperlukan logam pengisi untuk menjamin sambungan yang optimal. Jika pada pelat tipis dipaksakan harus diberi logam pengisi maka hal itu



mungkin saja dilakukan. Akan tetapi pada daerah sambungan akan nampak tonjolan logam las yang terlihat kurang baik.
Gas selalu menekan ke segala permukaan yang bersinggungan dengannya. Tekanan merupakan salah satu sifat gas yang paling mudah di ukur.  Suatu gas tak mempunyai bentuk, gas mengambil bentuk dari wadahnya. Gas tak mempunyai volume yang tertentu, melainkan dapat dimampatkan maupun dimuaikan  menurut perubahan ukuran wadah. Volume wadahnya adalah volume gas.[1]
Partikel gas selalu bergerak secara bebas ke segala arah, akibatnya gas akan mengisi ruangan yang dapat dimasukinya. Karena itu menyimpan gas harus dalam bejana (ruang) tertutup rapat. Suatu sistem gas akan mempunyai volume dan jumlah partikel tertentu. Partikel itu mempunyai energi kinetik yang menyebabkan ruangan mempunyai suhu tertentu. Gerakan itu menimbulkan tekanan terhadap dinding bejana.[2]
Anerdo Avogadro menyatakan bahwa pada suatu tekanan yang sama, semua gas dengan volume yang sama mengandung jumlah molekul yang sama, atau suhu dan tekanan tetap volume yang di tempati oleh suatu gas berbanding langsung dengan jumlah mol gas, atau dapat dinyatakan sebaga v.n atau v = k.n . [3] Asetilen merupakan gas yang tidak berwarna, mudah terbakar, dengan bau mirip bawang putih. asetilen adalah gas sintetin yang diproduksi dari reaksi kalsium karbida dengan air, dan disimpann dalam silinder yang berisi cairan aseton. Asetilen banyak digunakan sebagai bahan peledak, pemotongan besi, pengelasan dan juga untuk mempercepat matangnya buah-buahan.




c.       Alat dan Bahan
1)      Alat :
                                                                                   a)      Tali rapia
Stopwatch
                                                                                  b)      Korek Api
                                                                                   c)      Pipet tetes
                                                                                  d)      Palu
2)      Bahan :
a)  Kalsium karbida (CaC2)
b) Air (H2O)
c)  Bahan Bakar (Sampah)
d) Balon karet
d.      Cara kerja

1)      Menyiapkan alat dan bahan
2)      Memasukan air dengan pipet tetes sebanyak 3 ml ke dalam balon karet
3)      Memasukan kalsium karbida (CaC2) dengan cara mendorong CaC2 sampai melewati leher balon
4)      Menjepit leher balon dengan tangan agar potongan CaC2 tidak langsung bercampur dan bereaksi dengan air
5)      Menggoncangkan balon hingga CaC2 menempati yang lebih dalam
6)      Mengikat leher balon dengan tali rapia dan mengamati proses pemuaian pada balon tersebut
7)      Mengikat balon tersebut pada tiang sampai beberapa meter
8)      Mendekatkan balon dengan dengan sumber pembakar (api) sampai balon meledak





e.       Hasil Pengamatan
1)        Gambar
 











2)      Deskripsi
Dari hasil pengamatan kami dapat mendeskripsikan bahwa mencampurkan antara air dengan CaC2 dapat menyembabkan balon mengembang, dan ketika terjadi proses pembakaran, balon meledak. Ini disebabkan karena campuran antara air dengan CaC2, sehingga terjadi pemuaian. Adapun reaksi yang terjadi sebelum dan sesudah pembakaran adalah sebagai berikut:
1.      Gas Asetilen dihasilkan dari campuran air dengan kalsium karbida (CaC2) sesuai dengan reaksi :
CaC2 + 2H2O                            Ca(OH)2 + C2H2
2.      Letusan (pembakaran) gas asetilen
2C2H2 + 5O2                            4CO2 + 2H2O + panas

f.        Pembahasan
Asetilen sebenarnya dihasilkan dari reaksi batu Kalsium Karbida (orang-orang menyebut karbit) dengan air. Jadi jika Kalsium Karbida ini disiram atau dicelupkan ke dalam air maka akan terbentuk gas Asetilen. Apabila sejumlah air dan kalsium karbida (CaCl2) yang ditempatkan dalam balon karet yang ditutup dengan cara diikat dan segera mulai berekspansi (mengembang) yang kemudian sebagai hasil produksi
gas asitilen. Dalam proses gas tersebut ada terdapat gelembung-gelembung sebagai ciri khas dari pemuaian balon tersebut yang nantinya akan menghasilkan gas asitilen.
Asetilena adalah suatu hidrokarbon yang tergolong kepada alkuna,dengan rumus C2 H2. Asetilena merupakan alkuna yang paling sederhana, karena hanya terdiri dari dua atom hidrogen. pada asetilena, kedua karbon terikat melalui ikatan rangkap tiga, dan masing-masing atom karbon  memiliki hibridisasi orbital sp untuk ikatan sigma. Kelebihan yang dimiliki gas Asetilen antara lain, menghasilkan temperature nyala api lebih tinggi dari gas bahan bakar lainnya, baik bila dicampur dengan udara ataupun oksigen.




Dalam praktikum yang kami lakukan Apabila sejumlah air dan kalsium karbida
( CaCl2) yang ditempatkan dalam balon karet yang ditutup dengan cara diikat dan segera mulai berekspansi (mengembang) yang kemudian sebagai hasil dari produksi gas asetilen  (C2H2). reaksi yang sedang memuai sebelum dipanaskan reaksinya adalah
CaC2 (s) + 2 H2O (l)                         Ca (OH)2 (s) + C2H2 (g).
      
Dan apabila balon tidak mengakibatkan ekspansi (pengembangan) yang terjadi pada balon, maka dalam reaksi tidak dapat atau tidak menghasilkan gas asitelen.
Dalam percobaan tersebut kita dapat mengetahui bahwa gas sangat sensitive terhadap perubahan temperature dan tekanan, karena pengembangan yang terjadi tergantung  pada banyak sedikitnya air dan kalsium karbida. Dalam hal ini biasanya gas terbentuk pada temperature ruang atau yang berada sebagai gas pada temperature tinggi, akibat pemanasan tersebut dan reaksi kimianya menjadi balon karet yang telah dipanaskan dan terjadi peledakan dengan reaksinya
                             2C2H2 (g) + 5O2 (g)          > 4CO2 (g) +2H2O (g) + 2H2O + panas.

g.       Kesimpulan

      Dari percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa produksi gas asetilen dapat diproleh dari campuran air dan kalsium karbida (CaC2). Semakin lama pemuaian balon maka balon tersebut akan semakin membesar. Dalam hal ini biasanya gas terbentuk pada temperature ruang atau yang berada sebagai gas pada temperature tinggi, akibat pemanasan tersebut dan reaksi kimianya menjadi balon karet yang telah dipanaskan dan terjadi peledakan dengan reaksinya
                             2C2H2 (g) + 5O2 (g)          > 4CO2 (g) +2H2O (g) + 2H2O + panas.






















2.      DIFUSI GAS
a.       Pelaksanaan
1)      Hari/Tanggal                       : Ahad, 17 April 2011
2)      Waktu                                : 12.30-12.50 WITA
3)      Tempat                               : R.B.II.4 Kampus 2 IAIN Mataram
4)      Tujuan                                :  
Untuk membuktikan hukum graham’s tentang       difusi gas .
b.      Landasan Teori

Difusi gas merupakan campuran antara molekul satu gas dengan molekul gas lainnya yang terjadi secara sedikit demi sedikit berdasarkan sifat kinetiknya. Difusi gas selalu terjadi secara berangsur-angsur dan tidak secara seketika seperti kecepatan molekul yang diperkirakan.Karena kecepatan akar kuadrat rata-rata dari gas ringan lebih besar daripada gas yang lebih berat,maka gas yang lebih ringan akan berdifusi melalui ruang tertentu lebih cepat daripada gas yang lebih berat.

Hokum efusi graham’s
      Dua jenis gas dalam satu wadah akan menyebar dan bercampur secara spontan. Proses ini disebut difusi, yaitu percampuran dua zat yang mengalir sehingga didapat keadaan yang sama secara fisik.  Molekul gas dapat memasuki lobang sekecil apapun dan ruang yang tertekan tinggi yang lebih rendah. Proses ini disebut efusi, contohnya gas mengalir keruang vakum melalui pori dan keluarnya gas dari balon secara perlahan sehingga balon akhirnya kempis.
      Thomas graham’mempelajari kecepatan efusi beberapa gas dan mendapatkan hubungan yang disebut hokum graham’s:
Pada suhu dan tekanan yang sama, kecepatan efusi gas berbanding terbalik dengan akar kerapatnnya  atau r ∞√1/d [4]

c.       Alat dan Bahan
1)      Alat :
a)      Gelas piala
b)      Batang pengaduk gelas
c)      Tisu
d)      Plstik wrap
e)      Mistar
f)        Stopwatch
2)      Bahan :
a)      Larutan asam clorida (HCl) dan amonium (NH3)
b)      Kapas
c)      Kertas lakmus
d.      Langkah kerja

1)         Menyiapkan alat dan bahan
2)         Membersihkan dua gelas piala dengan tisu
3)         Menjepit kapas
4)         Memasukkan potongan kertas lakmus biru  dan merah ke dalam gelas piala   sesuai dengan labe. Lakmus biru pada gelas piala yang berisi HCl dan gelas piala yang berisi NH3
5)         Mendorong kertas lakmus tersebut ke dasar gelas piala
6)         Mencelupkan potongan kapas pada larutan HCl dan NH3
7)         Memasukkan kapas yang sudah dicelupkan HCl pada gelas piala yang berisi       lakmus biru dan NH3 pada gelas piala yang berisi lakmus merah
8)         Menutup mulut silnder dengan ketat menggunakan potongan plastik wrap
9)         Menghitung waktu perubahan warna lakmus dengan stopwatch
10)     Mencatat hasil pengamatan





e.        Hasil Pengamatan
1)      Gambar





2)      Deskripsi
Percobaan difusi gas yang dilakukan merubah kertas lakmus merah menjadi warna biru. Hal tersebut menunjukan gas NH3 atau amoniak bersifat basa.Perubahan kertas lakmus merah menjadi warna biru tersebut cepat, berbeda dengan perubahan kertas lakmus biru menjadi warna merah oleh HCl (asam) yang terjadi sangat lambat. Hal ini disebabkan HCl bersifat asam kuat sehingga ikatannya lebih kuat dibandingkan NH4OH yang bersifat basa lemah. Semakin kuat ikatan, maka semakin sulit pula melepaskan ion-ionnya.Gas HCl hanya merubah satu kertas lakmus biru menjadi merah, sedangkan Gas NH4OH merubah semua lakmus merah menjadi biru dalam waktu 50:75 detik,
3) Analisis

Adapun untuk membuktikan  persamaan rasio kecepatan HCl dan NH3 dengan ketetapan 1,46 sbb:
                             R= V HCl
                                          V NH3
Ket: kecepatan HCl berbanding terbalik dengan kecepatan NH3
Dapat dibuktikan dengan rumus V=S/t
Dimana    V=Kecepatan
                                          S=Jarak
                                          t =Waktu
                
                        Dik :S =17 cm
                                t=17 s
dit V=……?
Penyelesaian
VNH3=SNH3
             t NH3
          =17/75=0,226 m/s

V HCI=SHCI
              tHCI
                 = 17/50
           =0.34 m/s
                                     R= V HCl
                                          V NH3
                                       =0,34/0,226
                                      =1,5

f.        Pembahasan
Dua jenis gas dalam satu wadah akan menyebar dan bercampur secara spontan. Proses ini disebut difusi, yaitu percampuran dua zat yang mengalir sehingga didapat keadaan yang sama secara fisik. Thomas graham’mempelajari kecepatan efusi beberapa gas dan mendapatkan hubungan yang disebut hokum graham’s:
Pada suhu dan tekanan yang sama, kecepatan efusi gas berbanding terbalik dengan akar kerapatnnya  atau r ∞√1/d

 Pada percobaan ini kita mencoba membutikan hokum graham’s di atas dengan menggunakan persamaan : R= V HCl
                                                                            V NH3
kecepatan HCl berbanding terbalik dengan kecepatan NH. Sehingga terbukti hasil rasio yang kita peroleh tidak jauh beda yakni 1,5 pada percobaan dengan hokum graham’s1,46 .
                
g.       Kesimpulan

Dari hasil pengamatan kita dapat membuktikan rasio ketetapan hukum graham’s yakni kecepatan HCI berbanding terbalik dengan kecepatan NH3. dengan melakukan percobaan  menggunakan perbandingan kecepatan HCI dan NH3 ini menghasilkan  raso 1,5 tidak jauh beda Dengan ketetepan rasio yang kita cari 1,46 .Hal ini sesuai dengan hasil ketetapan hokum graham’s. Adapun yang mempengaruhi difusi gas yakni waktu, jarak, dan kebersihan alat.

ACARA II: PEMURNIAN DAN PEMISAHAN
Dekantasi,Filtrasi, dan Kristalisasi
Pelaksanaan
Hasil/tanggal           : Ahad,  17 April
Waktu                       :10.30-11.00
Tempat                     : R.II.3.kampus 2 IAIN Mataram
Tujuan praktikum      :Untuk mengetahui perbedaan garam dapur
                                                               sesudah dan sebelum proses pemurnian
Landasan  Teori

      Proses yang terjadi pada destilasi adalah perubahan pase cair menjadi fase uap atau gas dengan pendidihan, kemudian gas tersebut mengembun akibat pendinginan. Tahap terpenting pada destilasi adalah pendidihan dan kondensasi pengembunan.
      Dasar penting dalam destilasi adalah tekanan uap yaitu suatu sifat yang tergantung pada suhu. Kenaikan suhu selalu menyebabkan tekanan uap bertambah besar. Titik didih adalah suhu dimana tekanan uap sama dengan tekanan luar / atmosfer. Pada suhu ini molekul zat cair mempunyai energi yang cukup untuk berubah menjadi fase uap tidak hanya pada permukaan zat cair tetapi di seluruh bagian zat cair sehingga terjadi gelembung dan keadaaan ini diebut mendidih. Suhu pada  saat tekanan uap zat cair sama dengan atmosfer disebut titik normal.[5]
      Untuk mendapatkan zat tertentu yang murni perlu dilakukan pemisahan campuran dengan cara:
Filtrasi
Filtrasi adalah memisahkan campuran zat padat dengan cair dengan cara penyaringan . Hasil penyaringan disebut filtrat, dan sisanya disebut residu. Contoh pemisahan  campura antara kapur dengan air.




Destilasi  
Dekantasi adalah pemisahan komponen-komponen larutan dengan cara penuangan.
Rekristalisasi
Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat yang jamak digunakan, dimana zat-zat tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dikristalkan kembali. Cara ini bergantung pada kelarutan zat dalam pelarut tertentu di kalau suhu diperbesar. Peristiwa rekristalisasi berhubungan dengan reaksi pengendapan. Endapan merupakan zat yang memisah dari satu fase padat. Endapan terbentuk j                 ika larutan bersifat terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan merupakan konsentrasi molal dari larutan jenuhnya.
     Selama pengendapan ukuran kristal yang terbentuk, tergantung terutama pada dua faktor penting yaitu laju pembentukan inti (nukleasi) dan laju pertumbuhan kristal. Jika laju pembentukan inti tinggi, banyak sekali kristal akan terbentuk, dan terbentuk endapan yang terdiri dari partikel-partikel kecil. 
Laju pembentukan inti tergantung pada derajat lewat jenuh dari larutan. Makin tinggi derajat lewat jenuh, makin besarlah kemungkinan untuk membentuk inti baru, jadi makin besarlah laju pembentukan inti .
Garam dapur atau natrium klorida atau NaCl. Zat padat berwarna putih yang dapat diperoleh dengan menguapkan dan memurnikan air laut. Juga dapat dengan netralisasi HCl dengan NaOH berair. NaCl nyaris tak dapat larut dalam alkohol , tetapi larut dalam air sambil menyedot panas, perubahan kelarutannya sangat kecil dengan suhu. Garam normal, suatu garam yang tak mengandung hidrogen atau gugus hidroksida yang d        apat digusur. Larutan-larutan berair dari garam normal tidak selalu netral terhadap indikator semisal lakmus. 
  Ekstraksi Pelarut
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan  menggunakan sekurang-kurangnya dua pelarut yang salang tidak bercampur. Kedua pelarut memiliki daya yang berbeda. Contohnya, iodium larut sedikit di dalam air, dan iodium juga larut di dalam CCl4 atau CHCl3 suatu pelarut organik.  Ada berbagai cara ekstraksi pelarut di Antaranya adalah ekstraksi tungggal( single extraction) biasa menggunakan corong pisah, dan ekstraksi kontinu dengan menggunakan alat soxhlet. Alat ini dapat melakukan ekstraksi berkali-kali tanpa menggunakan pelarut yang banyak. Cara kerja alat soxhlet; jika dipanaskan pelarut (pada labu bundar)akan meng-ekstak zat, misalnya senyawa bahan alam. Setelah wadah ekstrak penuh, pelarut akan turun kembali kelabu bundar dan selesailah satu tahap ekstraksi. Jika masih di kehendaki proses ekstraksi berikutnya, teruskan pemanasan. Pelarut akan menguap lalu mengembun sambil mengekstrak. Setelah wadah penuh, ekstrak kedua akan turun kelabu bundar, begitu seterusnya.[6]
Suatu materi atau zat memiliki sifat kimia dan sifat fisika, akan tetapi materi atau zat yang ada di bumi ini, kebanyakan berupa campuran, untuk menghasilkan materi   atau zat yang murni, kita harus bisa memisahkan materi atau zat tersebut dari campurannya. Pemisahan tersebut dapat dilaksanakan dengan proses pemisahan kimia dan fisika. Pemisahan kimia adalah satu komponen atau lebih direaksikan dengan zat lain sehingga dapat dipisahkan. Sedangkan pemisahan fisika adalah tidak mengubah zat selama pemisahan. Metode lain yang dapat digunakan untuk memisahkan materi atau zat tersebut dari campurannya adalah dengan cara mendidihkan campuran tersebut, yang biasa disebut destilasi. Kita dapat mengidentifikasi komponen yang berbeda dari beberapa campuran dengan mata telanjang dan juga dengan mikrroskop. Cara untuk teknik pemisahan campuran bergantung pada jenis, wujud, dan sifat komponen yang tergantung didalamnya. Beberapa campuran yang berbeda dari penyusunannya disebut campuran heterogen misalnya campuran air dan pasir. Campuran ini dapat dipisahkan dengan cara penyaringan. Saringan ada beberapa macam, misalnya kertas saring dan selaput semipermeable. Kertas sraing dipakai untuk memisahkan endapan atau padatan dari larutan sedangkan selaput semipermeable digunakan untuk memisahkan suatu koloid dari pelarutnya. Sebaliknyadalam beberapa campuran bila kita dapat membedakan campuran karena molekul-molekul atom dan penyusunnya bercampur dengan baik maka larutan ini disebut larutan homogen (misalnya larutan alcohol dalam air). Larutan ini tidak dapat dipisahkan dengan kertas saring ataupun selaput semipermeabel karena partikelnya yang sangat kecil dan lolos dari pori-pori kertas saring dan selaput semipermeabel. Campuran seperti ini hanya dapat dipisahkan dengan cara fisika, yaitu dengan cara destilasi, ekstrasi pelarut, dan kromatografi. [7] Bila dua macam campuran yang tidak bercampur ditempatkan dalam suatu bejana, maka masing-masing cairan akan menguap seperti cairan murni. Tekanan uap campuran demikian adalah jumlah tekanan uap murninya. Untuk campuran air dan Bromobenzena pada 1000C. Bila uap dialirkan kepada cairan Bromobenzena, zat ini akan mendidih dibawah 1000C, pengaturan uap demikian disebut destilasi uap, gunanya untuk memurnikan zat-zat organic yang pada titik didihnya mudah mengurai. Bila kita melakukan destilasi uap, maka kita dapat menentukan perbandingan berat air dan zat yang didestilasi.[8]
Alat dan Bahan
Alat :
Gelas kimia
Tabung reaksi
Kertas saring
Corong
Kawat kasa 
 Kaki tiga
Pengaduk
Bunsen/spirtus
Korek apii)

Bahan :
Air 25 ml
Kapur 5 sendok
Garam
Langkah Kerja
Menyiapakan alat dan bahan
Menuangkan air 25 ml ke dalam gelas kimia
Menambahkan kapur 5 sendok ke dalam gelas kimia yang berisi air 25 ml
 Mengaduk campuran kapur dan air tersebut
Menunggu sampai terjadi pemisahan air dan kapur
Melakukan proses dekantasi, yakni memisahkan sentrat dari endapan
Menyaring kembali bagian lainnya ke dalam gelas kimia dengan               menggunakan corong dan kertas saring
Menampung filtratnya
Membandingkan filtrat dengan sentrat




Hasil Pengamatan
Gambar








Keterangan ganmbar


Deskripsi

Dari hasil pengamatan dapat kami deskripsikan bahwa larutan kapur dan air yang sudah bercampur dapat dipisahkan dengan cara penyaringan atau disebut dengan filtrasi. Kemudian setelah filtrate terpisah kami memurnikan campuran tersebut dengan cara dekantasi yakni pemisahan molekul dengan cara penuangan. Setelah proses dekantasi perbandingan  antara filtrate lebih murni dari sentrat. Sedangkan pada proses kristalisasi ini kita gunakan campuran air dengan garam kotor yng warnanya keruh dan sifatnya kasar kemudian disaring dengan kertas saring guna mendapatkan hasil yang murni karena kotoran yang ada pada garam terpisah setelah dipanaskan hingga kering dalam waktu 5 menit garam tersebut berubah  bentuk menjadi garam bersih, warnanya putih dan lembut. 

Pembahasan

Dari hasil pengamatan yang dilakukan, dapat diamati adanya proses pemisahan campuran air dengan kapur dan pemurnian garam dapur   yang bercampur air.  campuran tersebut di saring sehingga diperoleh larutan garam atau yang disebut filtrat. Filtrate itu kemudian dipanaskan sampai kering. Sehingga kita dapat memperoleh garam yang halus dan bersih. Dari garam sebelum dan sesudah dilakukan pemurnian tersebut dapat kita amati perbandingannya. Perbandingannya yaitu pada garam awal bentuknya kasar, kotor dan keruh sedangkan pada garam setelah dilakukan pemurnian hasilnya yaitu bersih, lembut dan putih. Hal ini dapat terjadi disebabkan karena terjadinya pemurnian pada garam.
Suatu proses pemisahan menggunakan sekurang-kurangnya dua pelarut yang tidak saling bercampur, kedua pelarut memiliki daya melarutkan yang berbeda, begitu juga ketika percobaan ini dapat kita melihat larutan yang tampak keruh menjadi jernih atau bersih, airnya berkurang dan terdapat gelembung sehingga terjadinya endapan,ketika airnya sedikit akan membentuk kristal garam yang ada di pinggir gelas kimia , kemudian setelah airnya habis kami dapat melihat tebentuknya garam-garam halus pada seluruh dasar permukaan dengan warnanya putih bening atau bersih  

Kesimpulan

Dari hasil pengamatan kami dapat simpulkan  bahwa proses pemisahan dan pemurnian dengan cara filtrasi, dekantasi, dan kristalisasi  ini  hanya memisahkan larutan  yang bercampur sehingga pemisahan yang dilakukan akan menghasilkan larutan yang lebih murni. Sehingga kita bisa bandingkan antara filtrate dan sentratnya.

DEST ILASI SEDERHANA
Pelakasanaan
Hari/Tanggal                       : Ahad, 22 Mei 2011
Waktu                                : 13.54-15.15 WITA
Tempat                               : R.B.II.4 kampus 2 IAIN Mataram
Tujuan                                :  
Mengetahui proses pemisahan antara air dan alkohol dengan cara destilasi sederhana
Landasan Teori

Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan kimia untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang jauh. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan destilasi biasa ini untuk memperoleh senyawa murninya. Senyawa – senyawa yang terdapat dalam campuran akan menguap pada saat mencapai titik didih masing – masing.
Pemisahan senyawa dengan destilasi ini bergantung pada perbedaan tekanan uap senyawa dalam campuran. Tekanan uap campuran diukur sebagai kecenderungan molekul dalam permukaan cairan untuk berubah menjadi uap. Jika suhu dinaikkan, tekanan uap cairan akan naik sampai tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer. Pada keadaan itu cairan akan mendidih. Suhu pada saat tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer disebut titik didih. Cairan yang mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu kamar akan mempnyai titik didih lebih rendah daripada cairan yang tekanan uapnya rendah pada suhu kamar.
Jika campuran berair didihkan, komposisi uap  di atas cairan tidak sama dengan komposisi pada cairan. Uap akan kaya dengan senyawa yang lebih volatile atau komponen dengan titik didih lebih rendah. Jika uap di atas cairan terkumpul dan dinginkan, uap akan terembunkan dan komposisinya sama dengan komposisi senyawa yang terdapat pada uap yaitu dengan senyawa yang mempunyai titik didih lebih rendah. Jika suhu relative tetap, maka destilat yang terkumpul akan mengandung senyawa murni dari salah satu komponen dalam campuran.
     
Alat dan Bahan
Alat :
Labu desti
Satu set alat destilasi
Pemanas/kompor listrik
Termometer
Corong pisah
Bahan :
Batu didih
Daun kayu putih

Langkah  Kerja

Menyiapkan alat dan bahan
Merangkai alat destilasi
Memasukkan alkohol pada labu destilasi, lalu memasukkan batu didih
Mengalirkan air pendingin
Menyalakan kompor listrik, mula-mula dengan api kecil
Mengamati termometer, apabila ada cairan yang keluar sebelum mencapai titik didihnya , maka kita memisahkan cairan tersebut, sedangkan apabila termometer menunjukkan titik didih alkohol tahan supaya suhu tersebut konstan
Menampung hasil destilasi
Menghentikan destilasi pada saat alkohol hampir habis
Mematikan kompor listrik
Hasil Pengamatan
Gambar


Deskripsi
Pada destilasi sederhana kita mencampurkan air dengan alcohol ditaruh dalam tabung destilasi setelah dipanaskan dengan melihat temperature hingga titik didih alcohol yakni 80 derajat maka  tejadilah penguapan, uap tersebut akan masuk ke dalam pipa yang dihubungkan ke kondensor, pada kondensor  uap tersebut akan mengembun kemudian akan mengalir menuju tabung desilasi, hasil yang didapat berupa alkohol


Pembahasan

Distilasi sederhana merupakan salah satu metode yang digunakan untuk pemurnian dan pemisahan suatu larutan yang berdasarkan pada perbedaan titik didih yang relative jauh.
pada pemisahan campuran alkohol-air kta dapat membabdingkan
titik didih alkohol adalah 80*C dan titik didih air adalah 100*C. Campuran
tersebut dicampurkan dalam labu didih.Pada suhu sekitar 80*C alkohol mulai mendidih tetapi sebagian air juga ikut menguap.Oleh karena alkohol lebih mudah menguap. Ketika mencapai kolom fraksionasi,uap mengembun dan memanaskan kolom tersebut.Setelah suhu kolom mencapai 80*C, alkohol tak lagi mengembun sehingga uap yang mengandung lebih banyak alkohol naik ke kolom di atasnya, sedangkan sebagian air turun ke dalam labu didih. Proses seperti itu berulang beberapa kali , sehingga akhirnya diperoleh alkohol yang lebih murni.

Kesimpulan

Dari hasil pengamatan disimpulkan bahwa hasil destilasi sederhana ini berupa alcohol yang dapat terpisahkan dari air.Alkohol dan air yang di gunakan sebagai sample memiliki ukuran  titik didih yang jauh berbeda. Disini titik didih pada saat sample dipanaskan temperature sangatlah diperhatikan yakni 80 derajat C baru terjadi penguapan untuk itu apabila sample dipanaskan terus menerus maka sample akan cepat habis
 DESTILASI UAP
Pelakasanaan
Hari/Tanggal                       : Ahad, 22 Mei 2011
Waktu                                : 15.15 WITA-Selesai
Tempat                   : R.B.II.4 kampus 2 IAIN Mataram
Tujuan                    :  
Mengetahui proses pemisahan larutan minyak kayu putih dengan cara destilasi uap
Landasan Teori

Distilasi uap merupakan metode untuk isolasi dan pemurnian senyawa. Metode ini dilakukan untuk cairan yang tidak bercampur atau hanya untuk yang sedikit bercampur dengan uap air.
Dalam hal ini akan dibicarakan yang tidak bercampur dengan uap air. Uap jenuh dari cairan yang sama sekali tidak bercampur akan mengikuti hukum Dalton mengenai tekanan parsial, yang mengatakan bahwa jika dua atau lebih gas atau uap yang tidak bereaksi satu sama lain yang dicampur pada suhu yang tetap, setiap gas itu menghasilkan tekanan yang sama seperti jika gas itu terdapat sendirian dan jumlah tekanan itu sama dengan tekanan jumlah system itu.
Dengan formula
P=P1 + P2 + P3 + P4…..+Pn
P adalah tekanan jumlah, dan P1, P2, P3,……Pn adalah tekanan parsial dari senyawa itu. Jika suatu campuran dari cairan yang tidak bercampur disuling, titik didihnya merupakan suhu dimana jumlah tekanan uapnya sama dengan tekanan atmosfer.
Tekanan uap parsial adalah tekanan uap cairan murni pada suhu tersebut. Jika PA dan PB adalah tekanan uap cairan A dan cairan B pada titik didih campuran, tekanan jumlah Pt adalah
Pt = PA + PB dan susunan uapnya adalah : nA/nB = PA + PB dimana nA adalah jumlah mol senyawa A dan nB adalah senyawa B pada volume tertentu pada fase uap

Destilasi uap ini digunakan untuk memisahkan dan memurnikan senyawa-senawa organic yang tidak larut dalam air. Keuntungannya, campuran dapat terdestilasi dibawah titik didih air dan titik didih zat organic tersebut.
Uap yang dibuat pada generator, dialirkan ke dalam wadah berisi zat yang mengembun melalui kondensor. Destilasi yang merupakan campuran air dan zat organic tidak larut kemudian dipisahkan dengan menggunakan corong pemisah. 

     
Alat dan Bahan
Alat :
Labu desti
Satu set alat destilasi
Pemanas/kompor listrik
Termometer
Corong pisah
 Bahan :
Air
Alkohol

Langkah  Kerja

Menyiapkan alat dan bahan
Merangkai alat destilasi
Memasukkan air pada dasar  destilasi
Memasukkan sampel pada tempat pembangkit uap
Mengalirkan air pendingin pada kondensor
Menampung destilasi
Menghentikan   waktu penguapan
Menurunkan hasil destilasi pada tempat penguapan
Memisahkan air dengan alkohol dengan menggunakan corong pemisah



Hasil pengamatan
Gambar



Deskripsi

Pada destilasi  uap kita mencampurkan air dengan daun kayu putih ditaruh dalam tabung desilasi, setelah dipanaskan tanpa melihat temperature maka terjadi penguapan, uap tersebut akan masuk ke dalam pipa yang dihubungkan kekondensor, pada kondensor uap tersebut akan mengembun kemudian akan mengalir menuju tabu ng destilast, hasil yang didapat berupa campuran minyak kayu putih dengan air.


Pembahasan
Distilasi uap merupakan metode untuk isolasi dan pemurnian senyawa. Metode ini dilakukan untuk cairan yang tidak bercampur atau hanya untuk yang sedikit bercampur dengan uap air. Destilasi uap ini digunakan untuk memisahkan dan memurnikan senyawa-senawa organic yang tidak larut dalam air. Tapi Pada percobaan ini kita tidak dapat memisahkan daun kayu putih dengan air disebabkan karena daun kayu putih yang kita gunakan sebagai sampel tidak memiliki titik didih tersendiri tdak seperti destilasi sederhana.

Kesimpulan

Dari hasil pengamatan dapat kita simpulkan bahwa destilasi uap digunakan untuk memisahkan campuran yang tidak larut dalam air. Dalam hal ini minyak kayu putih yang kita gunakan mengandung minyak kayu putih yang akan menguap ketika dipanaskan. Pada destilasi uap ini temperature tidak diperhatikan karena daun kayu putih yang kita gunakan sebagai sample tidak memiliki titik didih.  Oleh karena itu  minyak kayu putih yang dihasilkan tidak murni tapi masih dalam campuran minyak kayu putih +air























C.     ACARA III: LARUTAN DAN KELARUTAN

1.          PEMBENTUKAN ENDAPAN PUTIH

a.      Pelakasanaan
a.  Hari/Tanggal                         : Ahad, 24 April 2011
b. Waktu                                  : 09. 50-10.15 WITA
c.  Tempat                                : R.II.6 kampus 2 IAIN Mataram
d.  Tujuan                                 :  
1.      Untuk mengetahui apa yang menyebabkan terbentuknya endapan putih
2.      Untuk mengetahui hasil dan reaksi campuran antara larutan antimony potassium tartrat (K(Sbo)C4H7O2)  dan  barium clorida (BaCl2)

2.        Landasan Teori

Istilah kelartarun digunakan untuk menyatakan jumlah maksimal zat yang dapat larut dalam sejumlah tertentu pelarut.
Larutan merupakan campuran homogen dari zat terlarut (selulosa) dengan pelarut ( solvent) zat terlarut dapat berupa padat, cair dan gas sedangkan pelarutnya berupa zat cair. Banyaknya zat terlarut  pada pelarutnya di nyatakan dengan konsentrasi yang umum di kenal dalam kimia antara lain  % berat, % volume,  molaritas (M), molalitas (m), normalitas (N), dan lain-lain.[9] Suatu larutan mengndung zat yang terlarut atau lebih dari suatu pelarut. Zat terlarut merupakan komponen yang jumlahnya sedikit sedangkan pelarut adalah komponen yang terdapat dalam jumlah yang banyak.
Suatu larutan dengan jumlah maksimum zat terlarut pada temperature tertentu disebut larutan jenuh. Sebelum mencapai titik jenuh, larutan tidak jenuh kadang-kadang dijumpai suatu keadaan dengan zat terlarut dalam larutan lebih banyak dari pada  zat terlarut yang seharusnya  dapat melarut pada temperature tersebut. Larutan yang demikian disebut larutan lewat jenuh.
Banyak zat terlarut yang dapat menghasilkan larutan jenuh dalam jumlah tertentu pelarut dalam temperature konstan disebut kelarutan. Kelarutan suatu zat bergantung pada sifat  zat itu, molekul pelarut, temperature dan tekanan. Meskipun larutan dapat mengandung banyak komponen.[10]
Dalam kimia, larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi.
Contoh larutan yang umum dijumpai adalah padatan yang dilarutkan dalam cairan, Seperti garam atau gula dilarutkan dalam air. Gas juga dapat pula dilarutkan dalam cairan, misalnya karbon dioksida atau oksigen dalam air. Selain itu, cairan dapat pula larut dalam cairan lain, sementara gas larut dalam gas lain. Terdapat pula larutan padat, misalnya arloji (campuran logam) dan mineral tertentu.
Sebagian besar reaksi kimia terjadi dalam larutan. Hal ini disebabkan karena zat yang dilarutkan dalam zat pelarut, zat terlarut, akan berada pada ukuran terkecil, berupa molekul-molekul atau ion-ion lainnya. Larutan merupakan campuran antara dua atau lebih zat dengan perbandingan yang dapat diubah. Jumlah suatu zat yang terlarut didalam suatu pelarut di sebut konsentrasi zat terlarut, yang dapat dituliskan dengan istilah molaritas atau molalitas. Larutan membeku pada temperature yang lebih rendah dan akan mendidih pada temperature yang lebih tinggi daripada zat pelarutnya itu sendiri.[11]
3.        Alat dan Bahan
1)   Alat :
a)    Gelas kimia ukuran 100 ml dan 25 ml
b)   Pengaduk
c)    Stopwatch
d)   Bola pengisap
e)    Pipet ukur
2)         Bahan :
                                                                                    a)      Barium clorida (BaCl2)
                                                                                    b)      Antimony potassium tartrat  (K(Sbo)C4H4O6)
4.      Langkah Kerja
1)       Menyiapkan alat dan bahan
2)      Memasukkan 18 ml larutan Antimony potassium tartrat  (K(Sbo)C4H4O6) Ke dalam gelas kimia
3)      Menambahkan 4 ml larutan Barium clorida (BaCl2) tanpa diaduk
4)      Menaruh gelas pada pada meja demonstrasi
5)      Mencampurkan larutan Antimony potassium tartrat  (K(Sbo)C4H4O6) dengan larutan Barium clorida (BaCl2) tanpa diaduk
6)      Menunggu sampai  5 menit sampai terjadi pengendapan
7)      Mencatat hasil pengamatan
5.        Hasil pengamatan
1)   Gambar


      


2)   Deskripsi

Dari hasil pengamatan dapat kita dapat jelaskan dengan  persamaan sbb:
2 K(SbO)C4H4O6 + BaCl2 → Ba[(SbO) C4H4O6]2 + 2KCl
Dari reaksi diatas terdapat endapan Ba[(SbO) C4H4O6]2 dihasilkan dari campuran anatara larutan antimony potassyuim tartrat (2 K(SbO)C4H4O6) dan barium klorida ((BaCl2),18 ml ( setelah proses pemanasan), sebelum mengambil K(SbO4)2 C4H4O6 yang sudah menjadi larutan ada proses pemanasan terebih dahulu, selang beberapa menit kemudian dicampur dengan 4 ml larutan BaCl2 setelah mengamati selama selang waktu 5 menit, disana telah terjadi proses pengendapan dalam bentuk gumpalan –gumpalan putih.





6.      Pembahasan
Dalam percobaan ini terbentuk suatu reaksi
2 K(SbO4)2 C4H4O6 + BaCl2---à Ba [( SbO) C4H4O6]2 + 2KCl
Sebelum terbentuk endapan ,mula-mula mengambil larutan antimony potassium tatrat K(sbo) C4H4O6 sebanyak 18 ml kemudian dimasukkan kedalam gelas kimia. Setelah itu mengambil larutan barium klorida(BaCl2) sebanyak 4 ml kemudian dua larutan ini dicampur kedalam gelas kimia. Tunggu beberapa menit sampai terjadi endapan Ba [( SbO) C4H4O6]2dan cairan 2kcl pada larutan yang sudah di campur tersebut.
Dalam kimia, larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi.


Contoh larutan yang umum dijumpai adalah padatan yang dilarutkan dalam cairan, seperti garam atau gula dilarutkan dalam air. Gas juga dapat pula dilarutkan dalam cairan, misalnya karbon dioksida atau oksigen dalam air. Selain itu, cairan dapat pula larut dalam cairan lain, sementara gas larut dalam gas lain. Terdapat pula larutan padat, misalnya aloi (campuran logam) dan mineral tertentu.

7.         Kesimpulan.
Dari hasil pengamatan yang kami peroleh dapat kami simpulkan bahwa apabila K (SbO) C4H4O6 dicampurkan dengan BaCL2 maka akan membentuk endapan putih. Endapan putuh tersebut menggumpal menjadi suatu padatan, adapaun cairan enadapan itu disebut 2KCl dan endapan tersebut ditulis dengan reaksi Ba [(SbO)C4H4O6]2+2KCl.
Peristiwa rekristalisasi berhubungan dengan reaksi pengendapan. Endapan merupakan zat yang memisah dari satu fase padat dan keluar ke dalam larutannya. Endapan terbentuk jika larutan bersifat terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan merupakan konsentrasi molal dari larutan jenuhnya. Kelarutan bergantung dari suhu, tekanan, konsentrasi bahan lain yang terkandung dalam larutan dan komposisi pelarutnya.


D.  ACARA IV: ASAM BASA
a.       Pelaksanaan
1)      Hari/Tanggal                      : Ahad, 24 April 2011
2)      Waktu                               : 08.49-Selesai WITA
3)      Tempat                              : R.B.II.4 kampus 2 IAIN Mataram
4)      Tujuan                               :  
1.      Untuk menentukan skala pH dari ekstrak tumbuhan
2.      Untuk mengetahui apakah ekstrak tumbuhan bunga sepatu dan kunyit dapat digunakan sebagai indikator asam dan basa
b.      Landasan Teori
1)      Air murni tidak memgpunyai warna rasa, bau,dan warna. Bila mengandung zat tertentu, air dapat terasa asam, pahit, asin dan sebagainya. Air yang mengandung zat lain dapat juga dapat juga menjadi berwarna. kita  ketahui bahwa cairan yang berasa asam disebut larutan asam, yang terasa asin disebut larutan gara. Sedangkan yang terasa licin dan pahit disebut laruatan basa. Sifat asam dan basa larutan tidak hanya terdapat dalam auir, tetapi juga dalam larutan lain seperti amoniak, eter, dan benzene. Akibatnya cukup sulit mengetahui sifat asam n basa sesungguhnya. Oleh sebab itu, asam dapat dijelaskan dengan teori yang disebut teori asam basa, yaitu yang dikemukakan oleh Arhenius, bronsted-lowry,[12]
a)      Asam basa Arhenius
                                    Pada tahun 1887 Svante Arrhenius mempostulatkan bahwa bila molekul elektrolit dalam air, akan trbentuk ion-ion negative dan positif. Menjelang abad 19 definisi asam basa dinyatakan dalam teori pengionan Arrhenius. Asam Arrhenius ialah zat a melarut ke dalam air untuk memberikan ion-ion H, dan basa Arrhenius ialah zat yang melarut ke dalam untuk memberikan ion-ion OH[13].
Adapu Sifat-sifat asam: 

1.      Korosif, dapat merusak logam dan marmer.
2.      Mempunyai rasa asam.
3.       Dapat memerahkan kertas lakmus biru.
4.      Dapat menetralkan larutan basa.
5.      Dapat berupa zat padat, cairan. Dan gas.
Sifat-sifat basa :
1.      Bersifat kaustik, dapat merusak kulit.
2.      Memiliki rasa pahit dan licin.
3.      Membirukan kertas lakmus merah.
4.      Dapat menetralkan larutan asam.



b)      Asam basa bronsted-lowry
Pada tahun 1923 bronsted di Denmark  dan lowry di inggris secara terpisah menyarankan cara lain dalam memberikan asam dan basa.menurut ini,system bronsted-lowry adalah donor protein dan basa bronsted-lowry  adalah penerimaan proton.[14]




2)      Indikator asam basa
       Air ang dipakai seharu-hari bukanlah air murni, tetapi mengandung berbagai zat terlarut yang tidak diketahui dengan pasti. Bila mengandung senyawa elektrolit, kemungkinan akan bersifat asam atau basa, yang dapat ditentukan dengan kertas lakmus. Setelah dicelupkan kertas lakmus menjadi merah, menandakan air bersifat asam, dan bila biru bersifat basa. Kertas lakmus adalah kertas yang mengandung senyawa yang disebut indikator, yaitu yang mempunyai warna khusus pada pH tetentu. Dengan mengubah Ph larutan, warna indikator juga dapat brubah dengan sendirinya. Secara umum indikator adalah asam atau basa lemah yang membentuk kesetimbangan dalam air asam lemah tersebut memiliki warna berbeda dengan anionnya.[15]
     

Rentang pH indikator

Indikator tidak berubah warna dengan sangat mencolok pada satu pH tertentu (diberikan oleh harga pKind-nya). Malahan, mereka mengubah sedikit rentang pH. Dengan mengasumsikan kesetimbangan benar-benar mengarah pada salah satu sisi, Terjadi perubahan kecil yang berangsur-angsur dari satu warna menjadi warna yang lain, menempati rentang pH. Secara kasar "aturan ibu jari", perubahan yang tampak menempati sekitar 1 unit pH pada tiap sisi harga pKind.
Perubahan warna lakmus terjadi tidak selalu pada rentang pH yang besar, tetapi lakmus berguna untuk mendeteksi asam dan basa pada lab karena perubahan warnanya sekitar 7. Jingga metil atau fenolftalein sedikit kurang berguna.
      Semua asam mengubah kertas lakmus biru menjadi merah, dan larutannya mengalirkan listrik karena asam membentuk ion ketika larut dalam air. Sebaliknya semua basa juga memiliki beberapa sifat umum, seperti: memiliki rasa pahit, larutannya terasa licin seperti air sabun, dan mengubah kertas lakmus merah menjadi biru (berlawanan dengan asam). Larutan-larutan basa juga mengalirkan listrik, karena membentuk ion dalam air. Semua asam serupa karena menghasilkan ion hydrogen dalam air. Sebaliknya, semua basa juga membentuk ion hidroksida dalam air. Ion-ion tersebut menentukan sifat asam dan basa.[16]


c.       Alat dan Bahan
1)      Alat :
a)      Tabung reaksi
b)        Pengaduk
c)         Plat tetes
d)        Gelas plastik
e)         Tisu
f)          Silet
g)         Indikator universal
h)         Timbangan analitik
i)           Gelas arloji
j)          Bola hisap
k)        Pipet ukur
l)           Pipet tetes
b)  Bahan :
a)      Larutan baku (sabun)
b)      Bunga sepatu
c)      Air
d)      Alkohol

d.      Langkah Kerja

1)     Menyiapkan alat dan bahan
2)      Mengupas kulit kunyit dan memotong kecil-kecil bunga sepatu dan kunyit
3)      Menimbang 2 g kunyit dan bunga sepatu tersebut
4)      Memasukkan alkohol pada masing-masing indikator sebanyak 5 ml
5)      Mengaduk kedua indikator sampai zat-zat warnanya bereaksi sebanyak mungkin
6)      Meneteskan larutan baku pada pelat tetes (masing-masing 2 tetes)
7)      Meneteskan satu tetes indikator pada masing-masing larutan
8)      Mencatat nilai pH
9)      Menyiapkan larutan NaOH dengan konsentrasi 0,1 M
10)    Meneteskan 30 larutan HCl ke dalam tabung reaksi
11)    Menambahkan 2 tetes ekstrak tumbuhan bunga sepatu dan kunyit ke dalam larutan HCl tersebut
12)    Menambahkan larutan NaOH 0,1 hingga campuran ekstrak kunyit  dan bunga sepatu berubah warna

e.       Hasil Pengamatan
1)      Gambar


                                                         
                                            
  1.  Larutan asam    : H+ > 10 -7 M atau PH< 7;
  2. Larutan netral    : H+ = 10 -7  M atau PH =7;
  3. Larutan basa    : OH - >H+ atau H+  <10 -7 M atau PH> 7 .






Larutan baku
Wana awal
Larutan
Warna indikator
Perubahan warna
PH
Indikator
HCl  0,05 M
NaOH   0,01 M
NaCl      5%
CH3COOH 0,1 M 
Asam Borat 2%
Na2CO3 5%
NaHCO3 5%
Bening
Bening

Bening
Bening 

Bening

Bening

Bening



Merah
Merah

Merah
Merah

Merah

Merah

Merah



Merah Muda
Merah Muda

Ungu Muda
Pink

 Ungu

Abu Tua

Abu Tua
2
1

7
4

11

12

7
      Bunga sepatu
HCl  0,05 M
NaOH   0,01 M
NaCl      5%
CH3COOH 0,1 M 
Asam Borat 2%
Na2CO3 5%
NaHCO3 5%
Bening
Bening

Bening
Bening 

Bening

Bening

Bening
Kuning
Kuning

Kuning
Kuning

Kuning

Kuning

Kuning
Kuning

Orange
Kuning
Kuning

Orange

Orang

Orange
7

7
2
3

5

12

11
            Kunyit

2)      Deskripsi
Sifat asam atau basa suatu larutan dapat diketahui dengan menggunakan suatu penunjuk atau indikator. Pada umumnya indikator adalah asam atau basa organic lemah yang warnanya dapat berubah pada kondisi pH tertentu. Air bisa bersifat asam atau basa ditentukan dengan kertas lakmus. Jika dicelupkan kertas lakmus menjadi merah menandakan air bersifat asam dan bila bersifat basa maka kertas lakmus berubah menjadi biru.
 Dari hasil pengamatan ekstrak tumbuh-tumbuhan juga dapat dijadikan sebagai indikator asam dan basa. Untuk mengetahui  apakah larutan tersebut asam atau basa maka larutan ditambahkan alcohol pada masing-masing indikator sebanyak 5 ml. Setelah  campuran diaduk sampai terjadi perubahan warna dan menentukan skala pH dengan menggunakan indikator universal . Setelah selesai  ekstrak kunyit dan bunga sepatu tersebut  dicampur dengan larutan HCl dan . NaOH hasilnya bahwa ekstrat kunyit yang ditetesi HCl warnanya berubah menjadi merah, kemudian ditetesi dengan NaOH lagi dan ternyata warnanya berubah menjadi warna semua yakni kuning. Begitu pula dengan bunga sepatu ketika titetesi  HCl warnanya berubah menjadi orange dan setelah ditambah NaOH lagi warnanya berubah menjadi  warna pink seprti warna semula.

f)        Pembahasan
Asam adalah senyawa yang dapat memberikan ion hydrogen ( H +) bila dilarutkan dalam air. Basa adalah senyawa yang jika dilarutkan kedalam air akan menghasilkan ion hidroksida (OH-). Indikator asam basa adalah zat-zat warnanya mampu menunnjukkan warna berbeda dalam larutan asam dan basa. Misalnya lakmus. Lakmus akan berwarna merah dalam larutan yang bersifat asam dan berwana biru dalam larutan yang bersifat basa. Sifat-sifat asam-basa dari suatu larutan juga dapat ditunnjukkan dengan mengukur pH-ny. Larutan asam mempunyai pH <7, basa pH-nya>7, sedangkan larutan netral pH=7. PH
Dari hasil pengamatan  dapat kami buktikan bahwa ekstrak tumbuh-tumbuhan dapat dijadikan sebagai indikator asam dan basa sebagai pengganti lakmus. Untuk mengetahui  apakah larutan tersebut asam atau basa maka larutan ditambahkan alcohol,HCl, dan  NaOH pada masing-masing indikator.
g)      Kesimpulan

Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa tumbuhan kunyit dan bunga sepatu dapat dijadikan sebagai indikator asam dan basa, ini ditunjukkan adanya perubahan warna pada kedua ekstrak ketika ditetesi larutan HCl dan NaOH. Disini NaOH berfungsi mengembalikan warna ekstrak yang sudah tercampur kewarna semula. selain itu, campuran alcohol dan ekstrak tersebut dapat dijadikan sebagai penentu skala Ph dengan menggunakan indikator universal sehingga larutan HCl, NaOH, CH3COOH, Asam borat, Na2CO3, dan NaHCO, dapat menguji asam,basa, atau netralkah yang dikandung larutan-larutan tersebut.
E.     ACARA V: PERUBAHAN ENERGI REAKSI
1.      ENDOTERMIK : AMONIUM NITRAT
a.      Pelaksanaan
1)      Hari/Tanggal          : Ahad, 24 April 2011
2)      Waktu                     : 09.36-09.50 WITA
3)      Tempat                   : R.II.3 kampus 2 IAIN Mataram
4)      Tujuan                     :  
Untuk mengetahui penyebab terjadinya suhu pada reaksi endotermik
b.      Landasan Teori

Endotermik adalah reaksi yang menyerap kalor. Oleh karena itu, entalpi system akan bertamba, artinya entalpi produk lebih besar daripada entalpi pereaksi. Akibatnya perubahan entalpi, yaitu selisih antara entalpi produk dengan entalpi pereaksi yang bertanda positiif.[17]
Pada reaksi endotermik terjadi perpindahan kaor dari lingkungan kesistem atau pada reaksi tersebut dibutuhkan panas. Pada reaksi endotermik harga entalpi =(+)
Contoh :

CaCO3(s) → CaO(s) + CO2 (g) ∆H= +178,5 KJ
           
Pada reaksi endotermik entalpi system bertambah, artinya entalpi produk (Hp) lebih besar dari entalpi reaktan (HR).
Harga perubahan entalpi reaksi dipengaruhi oleh (kondisi suhu dan tekanan) pengukuran. Suhu dan tekanan standar yakni 25 derajat C dan 1 atm. Perubahan entalpi pada kondisi standar disebut perubahan entalpi standar yang dilambangkan dengan ∆H.[18]
Hokum Hess

Bunyi hokum hess : kalor tidak bergantung pada lintasan, tapi ditentukan ditentukan dengan melihat keadaan  awal dan keadaan akhir. Jadi jika suatu reaksi dapat berlangsung menurut dua tahap atau lebih, kalor reaksi totalnya sama dengan jumlah aljabar kalor tahapan reaksinya. Hokum hess dapat dinyatakan dalam bentuk diagram tingkat energy atau diagram siklus. Berdasarkan hokum hess kalor reaksi dapat dinyatakan secara tidak langsung, artinya tidak melalui eksperimen, tapi dari kalor-kalor reaksi yang berhubungan.[19]

Bila perubahan terjadi pada sebuah system maka dikatakan system bergerak dari
kedaan satu ke keadaan yang lain. Bila system di isolasi dari lingkungan sehiggan tidak ada panas yang dapat mengalir maka perubahan yang terjadi didlam system adalah perubahan adiabatic. Selama ada perubahan adiabatic maka suhu dari system akan menggeser, bila reaksinya eksotermik akan naik sedangkan bila reaksinya endotermik akan turun.
Bila system tidak di isolasi dari lingkungan maka panas akan mengalir antara keduanya. Maka bila terjadi reaksi suhu dari system dapat dibuat tetap, perubahn yang tejadi pada temperature tetap dinamakan perubahan isotermik, telah dikatakan bila tejadi raeaksi eksotermik atau endotmik maka pada zat-zat kimia yang telibat akan terjadi perubahan energi potensial. Panas reaksi yang kita ukur akan sama dengan perubahan energi  potensial ini.[20]


c.       Alat dan Bahan
1)      Alat :
a)      Gelas kimia ukuran 250 ml
b)      Termometer
c)      Sendok
2)      Bahan :
a)      Air
b)      Pupuk urea/amonium nitrat (NH3NO3)
d.      Langkah Kerja
1)       Menyiapkan alat dan bahan
2)      Memasukkan 100 ml air ke dalam gelas kimia
3)      Mencatat temperatur air (suhu awal)
4)      Memasukkan 10 g amonium nitrat (NH4NO3) ke dalam air tersebut
5)      Mencatat perubahan temperatur (Suhu akhir) setelah padatan terlarut
e.      Hasil Pengamatan
1)      Gambar





2)      Deskripsi
Reaksi endotermik adalah reaksi yang membutuhkan kalor. Pada praktikum ini terjadi reaksi antara gelas kimia dengan campuran air dan ammonium nitrat. Dalam hal ini, air dan ammonium nitrat sebagai system, sedangkan gelas dan udara sebagai lingkungan. Pada saat pengukuran, air pada gelas kimia tersebut. suhu mula-mulanya 28 derajat C. setelah dimasukkan 10 gram ammonium nitrat suhunya meningkat menjadi 23 derajat C. hal ini membuktikan bahwa pada reaksi endotermik terjadi penyerapan kalor.

Adapun reaksi yang terjadi pada endotermik ini dapat direaksikan sbb:

Panas + NH4NO3 (S) + H2O → NH4 (aq) + NO3 (aq)

f.        Pembahasan

Endotermik adalah reaksi yang menyerap kalor. Pada reaksi endotermik terjadi perpindahan kaor dari lingkungan ke sistem atau pada reaksi tersebut dibutuhkan panas. Pada reaksi endotermik harga entalpi =(+). Pada praktikum ini terjadi reaksi antara gelas kimia dengan campuran air dan ammonium nitrat. Dalam hal ini, air dan ammonium nitrat sebagai system, sedangkan gelas dan udara sebagai lingkungan. Disini kita dapat membuktikan hokum hess yang berbunyi : kalor tidak bergantung pada lintasan, tapi ditentukan dengan melihat keadaan  awal dan keadaan akhir. Jadi jika suatu reaksi dapat berlangsung menurut dua tahap atau lebih, kalor reaksi totalnya sama dengan jumlah aljabar kalor tahapan reaksinya

g.      Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa kami dapat mengetahui perubahan suhu reaksi endotermik yakni suhu mula-mula air 28 derajat C menurun menjadi 23 derajat C. Penyebab suhu menurun pada reaksi ini adalah karena adanya penambahan dari ammonium nitrat yang berbentuk padatan yang bersuhu dingin sehingga air terpengarui dan terjadi penyerapan kalor.
2.      EKSOTERMIK : KALSIUM CLORIDA
a.       Pelaksanaan
1)      Hari/Tanggal                      : Ahad, 24 April 2011
2)      Waktu                               : 09.50-Selesai  WITA
3)      Tempat                              : R.II.3 kampus 2 IAIN Mataram
4)      Tujuan                               :  
Untuk mengetahui penyebab terjadinya suhu pada reaksi eksotermik
b.      Landasan Teori
Reaksi eksotermik adalah reaksi yang membebaskan kalor,
∆H=Hp-HR <0 bertanda negative.
Perubahan reaksi pada eksoterm dan endoterm dapat dinyatakan dengan diagram bertingkat.[21]
Pada reaksi eksotermik terjadi perpindahan kalor dari system ke lingkungan atau pada reaksi tersebut dikeluarkan panas. pada reaksi eksoterm harga ∆H= ( _ ).
Contoh :
C (s) +O2 (g) → CO2(g)    ∆H=-393,5 KJ
                                   
            Pada reaksi eksoterm entalpi system berkurang, artinya entalpi produk lebih kecil daripada entalpi pereaksi.
Persamaan reaksi yang diikutsertakan perubahan entalpinya disebut persamaan termokimia. Nilai ∆H dituliskan pada persamaan termokimia disesuaikan dengan stokiometrivreaksi,artinya jumlah mol zat yang terlibat dalam reaksi sama dengan koefisien reaksinya. Entalpi juga bergantung pada wujud zat yang terlibat dalam reaksi maka wujud zat harus dinyatakan, yaitu dengan membubuhkan indeks s untuk zat padat, l untuk zat cair, dan g untuk zat gas[22]. 
c.       Alat dan Bahan
1)      Alat :
a)      Gelas kimia ukuran 100 ml
b)      Termometer
c)      Sendok
2)   Bahan :
a)      Air
b)      Kalsium clorida (CaCl2)

d.      Langkah Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan
2)   Memasukkan  30 ml air ke dalam gelas kimia
3)   Mencatat temperatur air (suhu awal)
4)   Memasukkan 3 g Kalsium clorida (CaCl2) ke dalam air tersebut
5)   Mencatat perubahan temperatur (suhu akhir) setelah kalsium klorida terlarut
e.       Hasil Pengamatan
                                                      1)      Gambar

                                                      2)      Deskripsi

Reaksi eksotermik adalah reaksi yang melepas kalor. Pada praktikum ini terjadi reaksi antara gelas kimia dengan campuran air dan kalsium klorida. Dalam hal ini, air dan kalsium klorida sebagai system, sedangkan gelas dan udara sebagai lingkungan. Pada saat pengukuran, air pada gelas kimia tersebut. suhu mula-mulanya 28 derajat C. setelah dimasukkan 3 gram kalsium klorida suhunya meningkat menjadi 32 derajat C. hal ini membuktikan bahwa pada reaksi eksotermik terjadi  pelepasan kalor.



Adapun reaksi yang terjadi pada endotermik ini dapat direaksikan sbb:

CaCl2 (s) +H2O (l) → Ca (aq) + Heat

f.        Pembahasan

Reaksi eksotermik adalah reaksi yang membebaskan kalor. Pada reaksi eksotermik terjadi perpindahan kalor dari system ke lingkungan. Reaksi eksoterm ini entalpi system berkurang, artinya entalpi produk lebih kecil daripada entalpi pereaksi. Pada percobaan  terjadi reaksi antara gelas kimia dengan campuran air dan kalsium klorida, dimana air dan kalsium sebagai system dan gelas kimia sebagai lingkungan. Air yang memiliki suhu awal 28 derajat C naik mendadi 32 C. hal ini menunjukkan  bahwa terjadi pelepasan kalor.

g.       Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa kami dapat mengetahui perubahan suhu reaksi eksotermik yakni suhu mula-mula air 28 derajat C meningkat menjadi 32 derajat C. Penyebab suhu meningkat pada reaksi ini adalah karena adanya penambahan kalsium klorida yang berbentuk padatan yang bersuhu panas maka air terpengaruhi, sehingga terjadi pelepasan  kalor.











F. ACARA  VI : REAKSI OKSIDADI REDUKSI
 A. THE MERCURY BEATING HEART
a.       Pelaksanaan
1)      Hari/Tanggal                      : Ahad, 22 Mei 2011
2)      Waktu                   : 08.43-08.55  WITA
3)      Tempat                  : R.B.II.6 kampus 2 IAIN Mataram
4)      Tujuan                   :  
Untuk mengetahui proses terjadinya getaran/denyutan pada mercury beating heart
b.      Landasan Teori
Bilangan oksidasi dan reaksi redoks  

Reaksi redoks melibatkan perpindahan elektron sehingga terjadi perubahan bilangan oksidasi (biloks). Reaksi oksidasi ditandai dengan pelepasan elektron yang menebabkan biloks lebih besar. Sebaliknya reaksi reduksi ditandai dengan penangkapan elektron yang menyebabkan biloks lebih kecil. Jumlah muatan disebelah kanan dan disebelah kiri persamaan reaksi redoks harus sama sehingga perlu disetarakan.
a.       Tingkat oksidasi  (biloks oksidasi)
Tingkat oksidasi adalah bilangan yang menyatakan banyaknya elektron  pada suatu atom yang terlibat dalam pembentukan senyawa (ikatan kimia. Misalnya senyawa NaCl terbentuk dari unsure Na dan CI yang berikatan secara ionic [23]




Dalam hal transfer oksigen, Oksidasi berarti mendapat oksigen, sedang Reduksi adalah kehilangan oksigen.
Sebagai contoh, reaksi dalam ekstraksi besi dari biji besi:

.
Dalam suatu reaksi, bilangan oksidasi suatu unsure meningkat (menjadi lebih positif), maka unsur tersebut mengalami oksidasi.Sebaliknya, jika bilangan oksidasi suatu unsur menurun, unsure tersebut mengalami reduksi. Perubahan dalam bilangan oksidasi juga digunakan untuk menyeimbangkan persamaan redoks. Tujuannya adalah untuk menjaga jumlah total elektron yang dilepaskan dalam oksidasi sama dengan jumlah total elektron yang diperoleh dalam reduksi.[24]
Jantung berdetak merkuri merupakan reaksi elektrokimia dari unsur merkuri untuk besi dan elektrolit. Reaksi observeable menunjukkan efek dari lapisan non-homogen ganda listrik Hal ni sering digunakan sebagi demonstrasi kelas.


Pada percobaan tetesan merkuri ditempatkan dalam kaca arloji, tenggelam dalam sebuah elektrolit seperti asam sulfat yang mengandung agen oksidasi seperti peroksida hidrogen atau kalium permanganat. Ketika merkuri tersebut tersentuh oleh ujung kuku besi drop mulaiberosilasi.

Sebuah bentuk lapisan listrik ganda antara permukaan tetesan merkuri dan larutan elektrolit. Pada lapisan ini sisanya adalah seragam. Ketika ujung besi adalah memperkenalkan dimulai reaksi redoks di mana besi teroksidasi menjadi ion besi. Pada saat yang sama reagen pengoksidasi dikeluarkan misalnya saat hidrogen peroksida bersama-sama dengan ion hidronium direduksi menjadi air. Karena oksidasi hanya terjadi di sekitar ujung dan proses penurunan permukaan tetesan meliputi seluruh ketegangan permukaan tidak lagi homogen menghasilkan osilasi.

c.       Alat dan Bahan
1)      Alat :
1.      Gelas arloji
2.      Jarum
3.      Gels kimia
4.      Pipet tetes
5.       Pengaduk
6.      Bola hisap
7.      Pipet ukur
2)      Bahan :
a.Asam sulfat (H2SO4)
b. Merkury murni
      c. Potassium dikromat (K2CR2O7)
d.Aquades
d.      Langkah Kerja


1)      Menyiapkan alat dan bahan
2)      Menaruh gelas arloji di atas meja
3)      Memasukkan merkury murni ke dalam gelas arloji sampai membentuk genanganm tidak boleh lebih dari 3-4 inci dari diameter
4)      Menambahkan asam sulfat (H2SO4) sampai permukaan genangan mercury tepat tertutup
5)      Meneteskan 1 ml larutan potassium dikromat (K2CR2O7) pada puncak merkuri
6)      Menyentuhkan ujung jarum ke mercury hingga merkury mengalami getaran
7)      Menambahkan asam sulfat (H2SO4)  untuk memperoleh denyutan yang lebih kuat

e.       Hasil Pengamatan
1)      Gambar

       

2)      Deskripsi
Pada pengamatan ini, bahan yang digunakan adalah merkuri murni , H2SO4 dan K2Cr2O7  pada langkah pertama dengan cara mencampurkan merkuri murni dengan K2Cr2O7 dipiring arloji hingga membentuk genangan yang merkurinya tertutup oleh K2Cr2O7. Genangan mercury membentuk bulatan-bulatan sebab muatan listriknya (jumlah electron) besar pada permukaanya. Sehingga ketika disentuh dengan jarum, maka mengalami denyutan seperti detak jantung. Denyutan/goncangan akan semakin kuat apabila H2SO4 ditambahkan


f.        Pemahasan
Pada pengamatan ini, kita menggunakan mercury murni  H2SO4  dan Cr2 O7-2  .  pada langkah pertama kita mencamurkan mercury murni dengan K2 Cr2 O7-2 hingga arloji membentuk genangan yang mercurynya tertutup oleh K2 Cr2 O7 . genangan mercuri membentuk bulatan-bulatan sebab muatan listriknya besar pada permukaannya.
Mercuri yang dimasukkan ke dalam gelas arloji itu harus membentuk gengan, dan genangan mercuri membentukbulatan, sebab muatan listriknya besar pada permukaan. Cr2 O7-2  berperan sebagai agen pengiksidasi, electron itu berpindah dari Hg  dan tetesan hg menjadi rata / turun. Ketika tetesan Hg turun sentuh dengan jarum dan akan mendapatkan  electron.
Dari pengamatan tersebut, diperoleh bahwa pencampuran antara mercury murni akan menghasilkan sebuah denyutan sepeti denyutan jantung pada manusia dengan meletakkan ujung jarum tepat pada pinggiran zat mercury  yang tergenang oleh K2 Cr2 O7 . denyutan pada percobaan tersebut akan semakin kencang dengan ditambahkannya larutan H2SO4   pekat pada pencampuran mercury murni dengan K2 Cr2 O7-2 .

g.       Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa factor-faktor denyutan merkuri dipengaruhi oleh larutan asam sulfat (H2SO4) dan sentuhan jarum, karena jarum membawa elektron yang bisa mengalirkan listrik. sehingga terjadi perpindahan elektron keika jarum disentuhkan. denyutan semakin bertambah kuat apabila Merkuri ditambahkan asam sulfat (H2SO4). Sedikit atau banyaknya H2SO4 yang ditambahkan sangat berpengaruh pada getatan/goncangan merkuri tersebut
B. DEKOMPOSISI AMONIUM DIKROMAT : REAKSI VULKANIK
a. .Pelaksanaan
b.      Hari/Tanggal                       : Ahad, 24 April 2011
c.       Waktu                                :  11.00 -Selesai  WITA
d.      Tempat                               : R.II.3 kampus 2 IAIN Mataram
e.      Tujuan                                :  
Untuk mengetahui reaksi dekomposisi ammonium dikromat
1)      Landasan Teori

Apakah Anda pernah berpikir mengenai banyaknya perbedaan dari jenis-jenis polimer yang dibentuk? Polimerisasi merupakan suatu jenis reaksi kimia dimana monomer-monomer bereaksi untuk membentuk rantai yang besar.
Dua jenis utama dari reaksi polimerisasi adalah polimerisasi adisi dan polimerisasi kondensasi. Jenis reaksi yang monomernya mengalami perubahan reaksi tergantung pada strukturnya. Suatu polimer adisi memiliki atom yang sama seperti monomer dalam unit ulangnya, sedangkan polimer kondensasi mengandung atom-atom yang lebih sedikit karena terbentuknya produk sampingan selama berlangsungnya proses polimerisasi.
Berbagai senyawa organik adalah molekul yang relatif kecil,berkisar dari molekul dengan empat sampai lima atom(seperti metana atau formaldehida) sampai hidrokarbon berantai panjang,dengan jumlah atom karbon sampai 30 dan massa molekul relatif sebesar beberapa ratus.Selain molekul-molekul kecil ini,Atom karbon membentuk rantai stabil dengan panjang yang dapat dikatakan tak terbatas.Rantai ini merupakan tulang punggung dari molekul-molekul yang luar biasa besar yang mungkin mengandung ribuan bahkan jutaan atom.Senyawa ini yang dinamakan polimer,terbentuk dengan menghubungkan banyak sekali satuan monomer (monomer unit) kecil yang terpisah-terpisah menjadi bentuk untaian atau jaringan.
Walaupun banyak polimer di dasarkan pada kemampuan karbon membentuk molekul berantai panjang yang stabil dengan berbagai gugus fungsi yang melekat padanya karbon,tidaklah bersifat unik dalam hal kemampuannya ini.
Dalam polimerisasi adisi (Addition polymerization),Monomer bereaksi membentuk rantai polimer tanpa mengalami kehilangan atom.Jenis paling lazim dari polimerisasi adisi melibatkan reaksi radikal bebas dari molekul-molekul yang mempunyai ikatan rangkap C=C.Mekanisme kedua yang penting dalam polimerisasi ialah polimerisasi kondedsasi (Condensation Polimerization) dimana satu molekul kecil (umumnya air) terlepas ketika masing-masing satuan monomer di dekatkan pada polimer yang tumbuh. Satu contohnya ialah polimerisasi asam 6-Aminoheksanoat.Dua molekul yang pertama bereaksi jika di pasangkan menurut satu ikatan Amida dan air terbentuk dari reaksi satu Amina dengan satu asam karboksilat.



2)      Alat dan Bahan
1)      Alat :
a)      Lempeng keramik
b)      Korek api 
c)      Sendok
2)      Bahan :
a)      (NH4)2 Cr2O7 (s)
b)      Kertas
c)      Alkohol
3)      Langkah Kerja

1)      Menyiapkan alat dan bahan
2)      Menempatkan satu sendok amonium dikromat pada potongan keramik atau piring penguapan
3)      Membakar amonium dikromat dengan batang korek api pada tumpukan atau dengan mencampurkan potongan kecil pada magnesium atau kertas yang sudah dicelupkan alkohol pada tumpukan tersebut
4)      Mengamati reaksi yang terjadi
5)      Mencatat hasil pengamatan
4)      Hasil Pengamatan
1)      Gambar
2)      Deskripsi
  
Mengamati suatu reaksi vulkanik dengan mengunakan ammonium dikromat (NH4)Cr2O7. Dari hasil pengamatan tumpukan ammonium dikromat (NH4)Cr2O7 tersebut masih dalam keadaan semula (belum dibakar). Pada saat pembakarannya ammonium dikromat melepaskan diri dari unsure pembentuknya disebut juga dengan reaksi reduksi. Pada reaksi tersebut terjadi perubahan kimia karena semula tumpukan ammonium dikromat sebelum dibakar warnanya orang sedangkan setelah dibakar warnanya hijau dan menjadi gas N2 yang berbahaya.

Adapun persamaan reaksi yang terjadi sbb :

                                    (NH4)2Cr2O7 (s) → N2 (g) + 4H2O (l) + Cr2O3 (s)
5)      Pembahasan

Ammonium dikromat (NH4)2Cr2O7 yang telah dimasukkan sumbu didalamnya dibakar sehingga mengeluarkan kalor. Proses terbakarnya serbuk nitrogen tersebut termasuk reaksi oksidasi karena direaksikan atau dibakar dengan oksigen dan menghasilkan abu sisa pemkaran dan residu yaitu N2 persamaan reaksinya
 :
  (NH4)2Cr2O7 (s) → N2 (g) + 4H2O (l) + Cr2O3 (s)

Reaksi vulkanik ini termsuk reaksi oksidasi karena membutuhkan oksigen untuk membakarnya hasil dari pereaksian ini adalah gas N2 dan abu nitrat dengan memancarnya lahar seperti kembang api. Gas N2 mengembangkan residu sehingga menghasilkan aroma tidak sedap dan menjadi N2 yang berbahaya. .

6)      Kesimpulan
Dari hasil pengamatan disimpulkan bahwa tumpukan kecil Kristal orange ditempatkan dalam sebuah bilahan keramik. Dimana bahan kimia tersebut mudah menyala dan terbakar karena ammonium dikromat mengalami perubahan reaksi kimia dan hasilnya berilian dan padatan hijau yang banyak. Sehingga peristiwa ini menyerupai letusan gunung berapi (Vulcano)




C. CHEMICAL POP GUN (LETUPAN MERIAM)
a.       Pelakasanaan
1)      Hari/Tanggal           : Ahad, 22 Mei 2011
2)      Waktu                      : 09.13-09.5  WITA
3)      Tempat                    : R.B.II.2 kampus 2 IAIN Mataram
4)      Tujuan                      :  
Untuk mengetahui proses terjadinya letupan pada meriam
e.       Landasan Teori
f.        Alat dan Bahan
1.    Alat :
a)      Botol
b)      Isolasi
c)      Sendok
d)      Gunting
e)      Sumbat
f)        Bola hisap
g)      Tongkat
h)      Pipet ukur
2)      Bahan :
a)      Na2CO2
b)      Asam asetat (CH3COOH)     








g.       Langkah Lerja

1.      Menyiapkan alat dan bahanunaka
2.      Membungkus botol dengan cara membalut dengan menggunakan isolasi
3.      Mengikat botol dengan tongkat
4.      Mempersiapkan satu sendok penuh sodium karbonat dengan cara membungkusnya dengan menggunakan tisu
5.      Memasukkan sekitar 12 ml asam cuka (CH3COOH) ke dalam botol
6.      Memasukkan sodium karbonat yang telah disiapkan
7.      Menutup botol dengan cepat dan memegangnya dari jarak yang jauh
8.      Menunggu sampai terjadi pentolan pada sumbat botol
9.      Mencatat hasil pengamatan

h.       Hasil Pengamatan
a.       Gambar






b.      Deskripsi
Dalam percobaan ini kami mengalami dua kali kegagalan. Namun pada percobaan ketiga kalinya akhirnya kami berhasil membuat sumbat terpental cukup keras. Adapun penyebab keagalan kami salah satunya dikarenakan sodium karbonat yang dibungkus dengan tisu bocor. Pada percobaan yang berhasil ini asam cuka yang dicampur  sesendok penuh sodium karbonat yang dibungkus tisu tersebut akan saling bereaksi. Hasil reaksi antara  asam cuka dengan sodium karbonat tersebut ialah mampu mendorong sumbat botol sehingga terjadi pentalan.
Adapun reaksinya sbb:
Na2CO3 (s) + 2CH3COOH(aq) → 2NaCH3COO (aq) + H2CO3(aq)
                           H2CO3 (aq) → H2O  (I) + CO2 (g)


i.         Pembahasan
j.        Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa  terpentalnya sumbat karena asam asetat dan karbon bereaksi membentuk karbondioksida pada ruangan tertutup. Sumbat tidak akan terpental apabila ada kesalahan yang dilakukan pada prosedurnya seperti bocornya sodium karbonat yang dibungkus tisu. Dalam percobaan ini kita dapat mengetahui bahwa Semakin banyak sodium karbonat yang digunakan semakin kuat sumbat tepental.


















G. ACARA VII : SABUN TRANSPARANT EKONOMIS
a.       pelaksanaan
1)        Hari/Tanggal                         : Ahad, 22 Mei 2011
2)        Waktu                                  : 08.43-08.55  WITA
3)        Tempat                                : R.B.II.6 kampus 2 IAIN Mataram
4)        Tujuan                      :  
Untuk mengetahui cara pembuatan sabun transparat ekonomis

b.      Landasan Teori
c.       Alat dan Bahan
1)      Alat :
a)      Bola hisap
b)      Pipet ukur
c)      Pipet tetes
d)      Pengaduk
e)      Gelas kimia
f)        Penjepit
g)      Kompor
h)      Panci
i)        Korek epi
j)        Tisu

2)      Bahan :
a)         Chip soap ultra TR 55 g
b)        Lexaine C 77cc
c)         Carbowax liquid 3,65 cc
d)        Proplycene gycol 3,65 cc
e)         Alkohol 3,65 cc
f)          Fixolite 3,65 g
g)         Parfum secukupnya
h)         Pewarna secukupnya
d.      Langkah Kerja

1)      Menyiapkan alat dan bahan
2)      Memasukkan 55 g Chip soap ultra TR ke dalam wadah
3)      Memasukkan 7,3  cc Lexaine C ke dalam wadah
4)      Memasukkan 3,65 cc carbowax liquid ke dalam wadah
5)      Memasukkan 3,65 cc Propylene glycol ke dalam wadah
6)      Memasukkan 3,65 g Fixolite ke dalam wadah
7)      Memanaskan kelima bahan ke dalam gelas kimia/wadah yang berisi air panas, kemudian bahan diaduk sampai leleh
8)      Mengangkat bahan yang sudah leleh tersebut dari panci
9)      Memasukkan pewarna secukupnya, aduk sampai rata
10)  Memasukkan  parfum secukupnya, Aduk sampai rata
11)  Memasukkan alkohol 3,65 cc
12)  duk sampai rata
13)  Menuangkan  ke dalam cetakan
14)  Membiarkan sampai padat

e.       Hasil Pengamatan

1)      Gambar
2)      Deskripsi
Dari hasil pengamatan sabun ekonomis tebentuk dari bahan Chip soap ultra TR,  Lexaine carbowax, liquid, Propylene glycol, dan Fixolite. Bahan-bahan ini dicampur menjadi satu dan dipanaskan sampai chip soap ultra TR yang berbentuk padat meleleh. Pada campuran ini ditambahkan alcohol, pewarna, dan pewangi setelahnya sehingga memperoleh sabun yang padat , berwarna dan berbau harum.
f.        Pembahasan

g.       Kesimpulan

Kesimpulannya bahwa sabun terbentuk karena chip soap ultr 
















[1] Keenan, kimai untuk universitas,(Jakarta:Erlangga,2001), hlm.246.
[2] Syukri,Kimia dasar, (Bandung :ITB,2000),hlm.266.

[4] Syukri S.Kimia dasa,(Bandung:ITB,1999),.hal.281.
[5] Drs. Husen junaidi:2000:109
[6] Tim Kimia Dasar Universitas Mataram:2009:1-3
[7] Syukri, Op.Cit.hlm.15.
[8] Sukarjo, 92: 2001
[9] Drs.Husen junaidi:2000:13

[10] Ahmad Hiskia.Kimia larutan.2001:1
[11]  Harold, 81: 2004:
[12]Syukri S,Op.Cit,hlm.387.
[13] Keenan,Op.Cit.hlm.408
[14] Keenan.hlm.410.
[15] Syukri S,Op.Cit.hlm.424
[16] Harold, 94: 2004
[17] Alinger norman,Kimia dasar,(karang anom:cempaka putih,1976),hlm. 60.
[18] Arifatun Anifah  Setawati,KIMIA  Menguji phenomena Alam, (New York:Worth Publiser,2007),hlm.27
[19] Arifatun Anifah  Setawat.hlm.32.
[20] http : // id. Wikipedia
[21] Arifatun Anifah  Setawati,Op.Cit.hlm.60.
[22] Alinger norman,Op.Cit.hlm.28.
[23] Jumadil akhir,kimia,(Jakarta: yudistira,2006),hlm.45.

[24] Harold, 105: 2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar