Selasa, 29 Mei 2012

SEJARAH PERKEMBANGAN TAREKAT



SEJARAH PERKEMBANGAN TAREKAT
Oleh : Aminullah (151 104 144)
A.     Pengertian Tarekat
Kata Al-thariqa berarti jalan, sinonim dengan kata suluk. Maksudnya ialah jalan kerohanian. Tarekat kemudian dimaknai dengan ‘jalan kerohanian yang muncul disebabkan pelaksanaan syariat agama, karena kata syar’ (berasal dari kata syari’at) berarti jalan utama’. Pengertian diatas menunjukan bahwa jalan yang ditempuh dalam tasawuf, melalui bimbingan, dan latihan kerohaian dengan tertib tertentu, merupakan cabang dari jalan yang lebih besar, yaitu syari’at. Termasuk didalamnya kepatuhan didalam menjalankan syari’at dan hokum islam yang lain.
Tarekat berasal dari bahasa arab thariqah, jamaknya taraiq, yang berarti
1.      Jalan / petunjuk jalan / cara  (kaifiyyah) ;
2.      Metode, sistem (al-uslub);
3.      Mazhab, aliran, haluan (al-mazhab) ;
4.      Keadaan (al-halah) ;
5.      Tiang tempat berteduh, tongkat, payung (amud al-mizalah) .

Para sufi merujiuk hadits yang menyatakan “syariat ialah kata-kataku (qauli), tareket ialah perbuatanku (amali), dan hakekat adalah keadaan bathinku (ahwali)”. Ketiganya saling terkait dan tergantung. Kemunculan tarekat sufi juga sering dirujuk pada hadits yang menyatakan “setiap bmukmin itu adalah sermin dari mukmin yang lain”. Para sufi selalu bercermin pada perbuatan orang lain kemudian dibandingkan dengan pebuatan dirinya yang nantinya mereka bercermin untuk memurnikan Qalbunya.
Kebiasaan di atas mendorong munculnya salah satu aspek penting gerakan tasawuf, yaitu : Persaudaraan Sufi yang didasarka atas cinta dan saling bercermin pada diri sendiri. Persaudaraan inilah yang kemudian disebut tarekat sufi.
Tarekat adalah perjanjian seorang sâlik (orang berjalan menuju Tuhan atau pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allâh S.W.T sedekat mungkin, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad S.A.W, para sahabat, tabi’it tabi’in, sampai kepada para penerus dan pewaris Nabi S.A.W.
Dalam artian lain tarekat (tarekat hassah) adalah rangkaian tata wirid dan doa yang dipraktekkan secara istiqamah oleh seorang pengikut tarekat, yang diterima dari guru tertentu, yang memiliki silsîlah bersambung (muttasil), yang bersambung secara berurutan sampai kepada Nabi Muhammad S.A.W. Pendapat lain menyebut bahwa tarekat tempat berkumpulnya para sufi dan murid-murid sufi dalam suatu lembaga yang dipimpin oleh seseorang yang diyakini sebagai guru atau Syeikh. H.A.R. Gibb mengatakan bahwa tarekat adalah yang harus ditempuh seorang sufi dibawah pimpinan seorang Syeikh, yang dengan usaha keras akhirnya dapat mencapai tingkat sipritual yang tertinggi.
H.Ahmad Darwis Djambak seorang pemuka tarekat Syaththariyah menulis, tarekat adalah jalan lurus yang dibentangkan Islam – kitab Allâh dan Hadis Nabi – untuk mencari Allâh dengan melalui Iman dan amal saleh yang bersendikan sebersih-bersih tauhid dan taqwa. Dari pengertian di atas, maka terekat memiliki dua pengertian. Pertama, berarti metode pemberian bimbingan sipritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Tarekat dalam pengertian ini adalah jalan yang harus ditempuh seorang salîk di mana sejumlah maqâmat dan ahwâl harus ditempuhnya agar sampai kepada tujuan akhir, yaitu mencapai hakikat . Pengertian tarekat seTarbiyah ini dapat dijumpai dalam tulisan al-Junaid (w.819), al-Hallâj (w.922), al-Sarâjj (w.988), al-Hujwirî (w.1072), dan al-Qusyairî (w.1074). Maka dengan demikian tarekat abad ke 9 dan 10 M lebih berorentasi pada perorangan (individu) dengan kehidupan sufistik sebagai ciri utamanya. Dari praktek individu itu tarekat kemudian muncul dalam bentuk ritual yang diamalkan secara bersama-sama melalui praktek sufistik. Tujuan utama penciptaan praktek-praktek keagamaan itu tidak lain, kecuali untuk mendekatkan diri kepada Sang pencipta, bahkan kalau bisa merasa bersatu dengan Tuhan. Akan tetap dalam kenyataannya, tekhnik-tekhnik yang diciptakan oleh pemuka-pemuka tarekat ada yang mendatangkan kesesatan dan penyimpangan dari tujuan semula. Dalam masa-masa selanjutnya. tarekat pun mengalami pelurusan dan pembaharuan. Hasilnya adalah dibangunan nya secara rinci etika bertarekat, termasuk mengenai tata-tertib hubungan murîd dan-Syeikh, cara-cara berkhalwat, tafakkur, zikir, dan sebagainya.
Tarekat dalam pengertian kedua, yakni sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) tumbuh sejalan dengan semangkin mantapnya berbagai-bagai teori dan amalan-amalan sufistik. Hal ini ditandai dengan terjadinya perubahan hubungan Syeikh dan murîd sejak abad ke 10 dengan adanya hubungan yang lebih formal melalui lembaga zâwiyah, rîbâth, atau khânaqâh sebagai pusat kegiatannya. Selanjutnya lahir pula konsep ijâzah, silsîlah yang semua ditujukan untuk menopang kokohnya sistem persaudaraan sufi yang telah melembaga itu. Bahkan, pada masa-masa berikutnya, seorang murid tidaklah sekedar pengikut syaikh akan tetapi mereka juga harus menerima bai’ah (sumpah setia) kepada sang Syeikh ataupun pendiri tarekat sesuai dengan garis lurus silsîlah yang diterimanya dari Syeikh, maka dengan begitu seorang murid memperoleh legitimasi dalam pengetahuan tarekat dan jalinan silsîlah persaudaraan, yang berarti sudah berada dalam satu keluarga besar tarekat yang dimasukinya.

B.     Sejarah Timbulnya Tarekat
Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan lahirnya gerakan tarekat pada, yaitu faktor kultural dan struktur. Dari segi politik, dunia Islam sedang mengalami krisis hebat. Di bagian barat dunia Islam, seperti : wilayah Palestina, Syiria, dan Mesir menghadapi serangan orang-orang Kristen Eropa, yang terkenal dengan Perang Salib. Selama lebih kurang dua abad (490-656 H. / 1096-1258 M.) telah terjadi delapan kali peperangan yang dahsyat.
Di bagian timur, dunia Islam menghadapi serangan Mongol yang haus darah dan kekuasan. Ia melahap setiap wilayah yang dijarahnya. Demikian juga halnya di Baghdad, sebagai pusat kekuasaan dan peradaban Islam. Situasi politik kota Baghdad tidak menentu, karena  selalu terjadi perebutan kekuasan di antara para Amir (Turki dan Dinasti Buwihi). Secara formal khalifah masih diakui, tetapi secara praktis penguasa yang sebenarnya adalah para Amir dan sultan-sultan. Keadaan  yang buruk ini disempurnakan (keburukannya) oleh Hulagu Khan yang memporak porandakan pusat peradaban Umat Islam (1258 M.).
Kerunyaman politik dan krisis kekuasaan ini membawa dampak negatif bagi kehidupan umat Islam di wilayah tersebut. Pada masa itu umat Islam mengalami masa disintegrasi sosial yang sangat parah, pertentangan antar golongan banyak terjadi, seperti antara golongan sunni dengan syi’ah, dan golongan Turki dengan golongan Arab dan Persia. Selain itu ditambah lagi oleh suasana banjir yang melanda sungai Dajlah yang mengakibatkan separuh dari tanah Iraq menjadi rusak. Akibatnya, kehidupan sosial merosot. Keamanan terganggu dan kehancuran umat Islam terasa di mana-mana.
 Dalam situasi seperti itu wajarlah kalau umat Islam berusaha mempertahankan agamanya dengan berpegang pada doktrinnya yang dapat menentramkan jiwa, dan menjalin hubungan yang damai dengan sesama muslim.
Masyarakat Islam memiliki warisan kultural dari ulama sebelumnya yang dapat digunakan, sebagai pegangan yaitu doktrin tasawuf, yang merupakan aspek kultural yang ikut membidani lahirnya gerakan tarekat pada masa itu. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kepedulian ulama sufi, mereka memberikan pengayoman masyarakat Islam yang sedang mengalami krisis moral yang sangat hebat (ibarat anak ayam kehilangan induk). Dengan dibukanya ajaran tasawuf kepada orang awam, secara praktis lebih berfungsi sebagai psikoterapi yang bersifat massal. Maka kemudian banyak orang awam yang memasuki majelis dzikir dan halaqah-nya para sufi, yang lama kelamaan berkembang menjadi suatu kelompok tersendiri (eksklusif) yang disebut dengan tarekat.
Di antara ulama sufi yang kemudian memberikan pengayoman kepada masyarakat umum untuk mengamalkan tasawuf secara praktis (tasawuf ‘amali), adalah Abu Hamid Muhammad al-Ghazali (w. 505 H./1111 M.). Kemudian menurut Al-Taftazani diikuti oleh ulama’ sufi berikutnya seperti  syekh Abd. Qadir al – Jailani dan Syekh Ahmad ibn Ali al-Rifa’i. Kedua tokoh sufi tersebut kemudian dianggap sebagai pendiri Tarekat Qadiriyah dan Rifa’iyah yang tetap berkembang sampai sekarang.
Secara garis besar melalui tiga tahap yaitu : tahap khanaqah, tahap thariqah dan tahap tha’ifah.
1.      Tahap khanaqah
Tahap khanaqah (pusat pertemuan sufi), dimana syekh mempunyai sejumlah murid yang hidup bersama-sama dibawah peraturan yang tidak ketat, syekh menjadi mursyid yang dipatuhi. Kontemplasi dan latihan-latihan spiritual dilakukan secara individual dan secara kolektif. Ini terjadi sekitar abad X M. Gerakan ini mempunyai masa keemasan tasawuf.
2.      Tahap thariqah
Sekitar abad XIII M. di sini sudah terbentuk ajaran-ajaran, peraturan dan metode tasawuf. Pada masa inilah muncul pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf dengan silsilahnya masing-masing. Berkembanglah metode-metode kolektif baru untuk mencapai kedekatan diri kepada Tuhan. Disini tasawuf telah mencapai kedekatan diri kepada Tuhan, dan disini pula tasawuf telah mengambil bentuk kelas menengah.
3.      Tahap tha’ifah
Terjadinya pada sekitar abad XV M. Di sini terjadi transisi misi ajaran dan peraturan kepada pengikut. Pada masa ini muncul organisasi tasawuf yang mempunyai cabang di tempat lain. Pada tahap tha’ifah inilah tarekat mengandung arti lain, yaitu organisasi sufi yang melestarikan ajaran syekh tertentu. Terdapatlah tarekat-tarekat seperti Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Syadziliyah dan lain-lain.
Sebenarnya, munculnya banyak tarekat dalam Islam pada garis besarnya sama dengan latar belakang munculnya banyak madzhab dalam figh dan banyak firqah dalam ilmu kalam. Di dalam kalam berkembang madzhab-madzhab yang disebut dengan firqah, seperti : khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Maturidiyah. Di sini istilah yang digunakan bukan mazhab tetapi firqah, di dalam figh juga berkembang banyak firqah yang disebut dengan madzhab seperti madzhab Hanafi, Maliki, Hanbali, Syafi’i, Zhahiri dan Syi’i. Di dalam tasawuf juga berkembang banyak madzhab, yang disebut dengan thariqah. Thariqah dalam tasawuf jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan perkembangan madzhab dan firqah dalam fiqh dan kalam, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tarekat juga memiliki kedudukan atau posisi sebagaimana madzhab dan firqah-firqah tersebut di dalam syari’at Islam.
C.     Hubungan Tarekat denga Tasawuf
Tasawuf, sebagai cara bagaimana manusia dapat merasakan dekat dengan Tuhannya bahkan kalau bisa bersatu dengan Tuhan, adalah pemikiran filsafat untuk memperkuat atau mengembangkan akidah agama. Sebagai bahagian dari pemikiran filsafat, tasawuf memiliki watak khusus. Jika cabang ilmu keislaman tauhid dan fiqih lebih menekankan pada aspek rasional dan formalistis maka tasawuf memilih cara intuitif dan substantif. Ciri khusus tasawuf adalah percaya pada pengetahuan Hakikat atau Tuhan dapat dicapai melalui cara (thâriqah) tertentu, seperti dzikir dan suluk atau melalui tanggapan batin (intuitif).
Tarekat sebagai bentuk lahir dari tasawuf muncul sebagai suatu penguyuban atau organisasi dalam lingkungan penganut Islam yang memiliki seperangkat aturan dan amalan-amalan dzikir serta bai’at (sumpah setia) yang diberikan oleh Syeikh (guru) terhadap pengikut (murid)nya. Dalam pengertian ini, maka tarekat sering juga di samakan dengan tasawuf, yaitu aspek Ihsân, yaitu kedekatan dengan Allãh sedemikian dekatnya. Gerakan tarekat mencapai puncaknya pada abad ke 7 hijriah ( 12 Masehi) dengan lahirnya kelompok-kelompok yang disebut dengan tarekat.
Pada abad ke 12 tarekat dalam pengertian penguyuban semangkin mapan, maka kemudian tarekat menjadi suatu komunitas dari orang-orang yang diikat sejumlah aturan-aturan tertentu (misalnya gaya hidup, amalan-amalan keagamaan khusus, bahkan cita-cita) dalam bingkai syarî’ah . Dari sinilah kemudian tarekat menjadi sesuatu yang mengejala seantero dunia Islam, lebih-lebih lagi ketika kondisi sosial politik ummat Islam memberikan ruang yang cukup tumbuhnya kehidupan sufistik, disebabkan jatuhnya Baghdad ke tangan Hologu Khan di abad ke 13. Kemudian muncullah beberapa tarekat sesuai dengan nama tokoh pendirinya. Maka antara abad ke 12 sampai abad ke 16 lahirlah empat belas tarekat yang merupakan tarekat asli. Mereka itu secara kronologis adalah tarekat Qadiriyah (W. 1166), Suhrawardiyah (W. 1167), Rifai’yah (W. 1175), Chitiyyah(W. 1236), Shadziliyah (W. 1256), Maulawiyah (W. 1273), Badawiyah (W. 1276), Dasuqiyyah (W. 1277), Sa’idiyyah (W. 1335) Naqsabandiyah(W. 1388), Khalwatiyyah (W. 1397),Sha’baniyyah ( W. 1569) dan Uwaissiyah.
Tarekat-tarekat ini kemudian mengalami perkembangan pesat, sehingga di dunia Islam ditemukan berbagai nama tarekat, bahkan ada yang sifatnya sangat lokal sekali. Di antara beragam aliran tarekat tersebut, ada yang tidak lagi berpijak pada landasan pokok al-Qur’ân dan hadis, mereka dengan sendirinya sudah menyimpang dan perlu dibimbing kembali ke jalan yang lurus. Dari perkembangan awal tarekat yang bersifat pribadi, kemudian menjadi gerakan persaudaraan sufi, selanjutnya menjadi gerakan massal, maka tidak kurang lahir 163 tarekat disamping ada yang dianggap menyimpang 14 buah aliran, sehinga 177 buah tarekat tumbuh dan punya sistem dan ajarannya sendiri-sendiri. Bahkan, ada tarekat di daerah dan tempat tertentu yang tidak dapat dipahami oleh orang di tempat lainnya. Sampai sekarang tarekat atau ordo yang masih kuat dan punya pengaruh luas dalam masyarakat ummat Islam dunia ada 76 ordo, diperkirakan 26 ordo utama yang memiliki pengaruh yang luas, termasuk di dalamnya 14 ordo asli di atas. Masing-masing tarekat itu punya silsîlah yang kuat dan mapan. Silsîlah, menurut mereka pada umumnya sampai ke Nabi Muhammad SAW melalui jalur garis Abu Bakar As-Shiddiq dan Ali Ibn Abi Thalib Radiyalahu ‘anhu.
D.    Aliran-Aliran Tarekat dalam Islam
1.      Tarekat Chisytiyah
Khwaja (Guru) Abu Ishaq Chisyti adalah orang Suriah, lahir di awal abad ke-10. Ia dianggap keturunan Nabi Muhammad SAW dan dinyatakan sebagai 'keturunan spritual' ajaran-ajaran batiniah Bani Hasyim. Komunitas Chisytiyah ini, berawal di Chisyt, Khurasan, khususnya menggunakan musik dalam latihan-latihan mereka. Kaum darwis pengelana dari tarekat ini, dikenal sebagai Chist atau Chisht.
Sebagaimana tarekat Sufi lainnya, metodologi khusus kaum Chisyti segera mengalami kristalisasi menjadi kecintaan sederhana terhadap musik; pembangkitan emosional yang dihasilkan musik dikacaukan dengan 'pengalaman spiritual'.
Pengaruh kaum Chisyti paling lama di India. Selama 900 tahun terakhir, musisi mereka dihargai di seluruh benua.
2.      Tarekat Qadariyah
Tarekat ini diadakan oleh para pengikut Abdul Qadir dari Gilan, yang lahir di Nif, distrik Gilan, sebelah selatan Laut Kaspia. Dia meninggal dunia pada 1166, dan menggunakan terminologi sangat sederhana yang kemudian hari digunakan oleh orang-orang Rosicrucia di Eropa.
Hadrat Syekh Abdul Qadir, khususnya dalam pengaruhnya terhadap keadaan-keadaan spiritual, disebut 'Ilmu Pengetahuan Keadaan'. Pekerjaannya telah digambarkan dalam istilah yang berlebih-lebihan oleh para pengikutnya.
Semangat untuk mengerjakan yang berlebihan terhadap teknik-teknik menggembirakan hampir pasti menjadi sebab keadaan yang memburuk dari tarekat Qadiriyah. Hal ini mengikuti suatu pola umum dalam diri para pengikut, apabila hasil dari suatu kondisi pikiran yang berubah menjadi suatu tujuan dan bukan suatu cara atau alat yang diawasi oleh seorang ahli.
3.      Tarekat Suhrawardiyah
Syeikh Ziauddin Jahib Suhrawardi-mengikuti disiplin sufi kuno Junaid Al-Baghdadi-dianggap sebagai pendiri tarekat ini pada abad ke-11 Masehi. Seperti halnya tarekat-tarekat lain, guru-guru Suhrawardi diterima oleh pengikut Naqsyabandi dan lainnya.
India, Persia dan Afrika semuanya dipengaruhi aktikitas mistik mereka melalui metode dan tokoh-tokoh tarekat, kendati pengikut Suhrawardi ada di antara pecahan terbesar kelompok-kelompok sufi.
Praktek-praktek mereka diubah dari kegembiraan mistik kepada latihan diam secara lengkap untuk 'Persepsi terhadap Realitas'.
Bahan-bahan instruksi (pelajaran) tarekat seringkali, untuk seluruh bentuk, hanya merupakan legenda atau fiksi. Bagaimanapun bagi penganut, mereka mengetahui materi-materi esensial untuk mempersiapkan dasar bagi pengalaman-pengalaman yang harus dijalani murid. Tanpa itu, diyakini, ada kemungkinan bahwa murid dengan sederhana mengembangkan keadaan pemikiran yang sudah berubah, yang membuatnya tidak cakap dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Tarekat Naqsyabandiyah
Sekolah darwis yang disebut Khajagan ('Para Guru') muncul di Asia Tengah dan berpengaruh besar terhadap perkembangan kerajaan India dan Turki. Tarekat mengembangkan banyak sekolah khusus, yang mengambil nama-nama individu. Banyak penulis menganggapnya sebagai awal dari seluruh 'mata rantai penyebaran' mistik.
Khaja Bahauddin Naqsyabandi (wafat kira-kira 1389 M) adalah salah seorang dari tokoh-tokoh besar sekolah ini. Bahauddin menghabiskan waktu tujuh tahun sebagai kerabat istana, tujuh tahun memelihara binatang dan tujuh tahun dalam pembangunan jalan.
Ia belajar di bawah bimbingan Baba As-Samasi yang mengagumkan, dan dihargai setelah kembali pada prinsip dan praktek sufisme. Para syekh Naqsyabandi sendiri mempunyai kewenangan untuk menuntun murid ke tarekat-tarekat darwis yang lain.
Karena mereka tidak pernah mengenakan busana aneh di depan umum, dan karena anggota mereka tidak pernah melakukan kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian, para sarjana tidak merekonstruksi sejarah tarekat, dan sering kesulitan mengidentifikasi anggota-anggotanya. Penganut Naqsyabandi di Timur Tengah dan Asia Tengah memperoleh reputasi sebagai umat Muslim yang taat.
5.      Tarekat Khalawatiyah
Cabang dari tarekat aqidah suhrardiah yang didirikan di Bagdhad oleh Abdul Qadir Suhrawardi. Mereka menamakan diri golongan siddiqiah karena mengklaim dirinya sebagai keturunan Abubakar Ash-Siddiq. Khalawatiyah ini didirikan di Kurasan oleh Zahiruddin dan berhasil berkembang sampai ke Turki.
6.      Tarekat Rifa’iyah
Abul Abbas Ahmad Bin Ali Rifa’I adalah pendiri tereka golongan ini. Cirri khas tarekat Rifa’iyah adalah pelaksanaan dzkirnya yang dilakukan bersama-sama diiringi oleh suara gendang yang bertalu-talu. Dzikir itu dilakukan sampai mereka dapat melakukan sesuatu yang menakjubkan sperti berguling-guling di atas bara api dan mereka tidak terbakar sedikitpun.

7.      Tarekat Summaniyah
Kemunculan Tarekat ini bermula dari kegiatan Muhammad Saman seorang Guru terkenal yang berasal dari Madinah. Banyak orang Indonesia terutama dari Aceh yang pergi kesana untuk mengikuti pengajaranya. Sehingga tidak heran tarekat ini banyak ditemukan di daerah Aceh. Tarekat ini biasanya melakukan dzikir secara bersama-sama pada malam jum’at sampai tengah malam. Selain itu juga sering melakukan shalat Dluha sebanyak 12 rakaat.
8.      Tarekat Syaziliyah
Pendirinya adalah Abdul Hasan Ali asy-Syazili. Menurut literature lain beliau adalah masih keturunan Hasan, anaknya Ali bin Abi Thalib. Tarekat ini menganggap seorang wali sebagai keramat.
9.      Tarekat Tijaiyah
Pendirinya adalah Abdul Abbas bin Muhammad bin Muchtar Attijani yang lahir  Ain MAhdi. Aliran ini selalu memperbanyak wirid. Wirid yang dibacaka sagat sederhana, seperti istigfar seratus kali dan tahlil setaus kali dan boleh di amalkan kapan saja




REFERENSI
Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1973, h.64.
Yudian Wahyudi Asmin dengan judul; Aliran Teologi dan Filsafat  Islam , Jakarta : Bumi Aksara,
Ahmad Tafsir, “Tarekat dan Hubungannya dengan Tasawuf”, IAIIM, 1990,   
Majelis Mahasiswa PBA, Islamilogi dan Konsep Dasar Sufisme, Mataram, Alam Tara Institut, 2011


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar